<?xml version='1.0' encoding='UTF-8'?><?xml-stylesheet href="http://www.blogger.com/styles/atom.css" type="text/css"?><feed xmlns='http://www.w3.org/2005/Atom' xmlns:openSearch='http://a9.com/-/spec/opensearchrss/1.0/' xmlns:georss='http://www.georss.org/georss' xmlns:gd='http://schemas.google.com/g/2005' xmlns:thr='http://purl.org/syndication/thread/1.0'><id>tag:blogger.com,1999:blog-1907104877772613638</id><updated>2012-01-29T18:10:45.981+07:00</updated><category term='..humaniora..'/><category term='..highlights..'/><category term='..senayan..'/><category term='..hiburan..'/><title type='text'>Sehabis Hujan</title><subtitle type='html'></subtitle><link rel='http://schemas.google.com/g/2005#feed' type='application/atom+xml' href='http://dhinigilangprasasti.blogspot.com/feeds/posts/default'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1907104877772613638/posts/default?max-results=100'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://dhinigilangprasasti.blogspot.com/'/><link rel='hub' href='http://pubsubhubbub.appspot.com/'/><author><name>Dhini Gilang Prasasti</name><uri>http://www.blogger.com/profile/17786272930796266715</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='29' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/-JtjRHzZKFMg/Twnka1jMscI/AAAAAAAAA1E/4efluOKoYKQ/s220/IMG_5114.JPG'/></author><generator version='7.00' uri='http://www.blogger.com'>Blogger</generator><openSearch:totalResults>17</openSearch:totalResults><openSearch:startIndex>1</openSearch:startIndex><openSearch:itemsPerPage>100</openSearch:itemsPerPage><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1907104877772613638.post-5586202591615001796</id><published>2011-06-19T02:19:00.002+07:00</published><updated>2011-06-19T02:22:19.618+07:00</updated><title type='text'>(Perihal) Pengelolaan Sampah di Jakarta</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: justify; font-family: georgia;"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic; font-weight: bold;"&gt;Tata kelola dan kerjasama yang baik antara warga masyarakat, pemerintah, dan swasta merupakan kunci utama agar sampah tak lagi dianggap musuh semata.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Penanggulangan sampah di beberapa kota besar di Indonesia masih menjadi concern para penyelenggara pemerintahan daerah, salah satunya Pemerintah Provinsi (Pemprov) DKI Jakarta. Meski terlihat sepele, persoalan penanggulangan sampah ternyata tak semudah yang dibayangkan. Apalagi sebagai bagian tak terpisahkan dari kehidupan manusia, sampah bergerak linier dengan perkembangan kehidupan manusia itu sendiri. Semakin kompleks alur kehidupan manusia, dipastikan jumlah sampah juga akan terus bertambah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Data yang berhasil dihimpun Pusat Pengembangan Riset Sampah Indonesia (PERISAI) menyebutkan, faktanya 100 persen manusia menghasilkan sampah. Sayangnya dari jumlah tersebut, kurang dari 1 persen yang peduli dan berniat untuk memelajarinya.  “Tidak seorangpun yang bersedia ketempatan sampah, meskipun hasil buangan dari dirinya sendiri (not in my back yard),” ungkap Sri Bebbasari dalam Seminar Nasional Pengelolaan Sampah di Kota-kota Besar: Tantangan dan Alternatif Solusi, di Pusat Studi Jepang UI Depok, awal Juni lalu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada kesempatan yang sama, Direktur Asosiasi Pemerintah Kota Seluruh Indonesia (APEKSI) Dr. H. Sarimun Hadisaputra, M.Si  memaparkan, sampah bertambah seiring dengan meningkatnya aktivitas dan jumlah penduduk. Pada 2020, lanjutnya, timbunan sampah kota diperkirakan meningkat lima kali lipat hingga mencapai angka 2,1 kg sampah per kapita. Kenyataan ini sangat jauh berbeda jika dibandingkan dengan tahun 2000 dimana masing-masing rumah tangga hanya menghasilkan  1,0 kg sampah per kapita.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Sampah di Jakarta&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Saat ini volume sampah di DKI mencapai 6.595 ton sampah per hari. Angka ini meningkat dibanding tahun 2009 yang hanya mencapai 6.200 ton sampah. Dari 6.595 ton sampah, sepertiganya merupakan sampah jenis plastik dan kertas yang paling banyak dihasilkan dari limbah rumah tangga, restoran, juga hotel. Kedua jenis sampah itu dikirim ke tempat pengolahan akhir sampah (TPAS) di Marunda dan Sunter, Jakarta Utara, serta Cakung-Cilincing di Jakarta  Timur.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jika tak ditanggulangi dengan maksimal, keberadaan sampah-sampah tersebut tentu akan mengganggu kehidupan masyarakat Jakarta. Bukan hanya dari segi kenyamanan dan kebersihan, tetapi juga kesehatan. Kebutuhan inilah yang coba difasilitasi semaksimal mungkin oleh Pemprov. DKI Jakarta, dalam hal ini Dinas Kebersihan. Diundang sebagai narasumber dalam seminar pengelolaan sampah,  Kepala Dinas Kebersihan Provinsi DKI Jakarta, Eko Bharuna mengungkapkan, saat ini pemahaman penanggulangan sampah di Jakarta bahkan mulai bergeser dari sebatas membuang, menjadi mengelola. Tak tanggung-tanggung, beragam inovasi dirancang agar ke depannya proses pengelolaan sampah dapat dilakukan di tingkat sumber. “Sesuai RPJMD DKI Jakarta, pada 2012 pengelolaan sampah di sumber ditargetkan mencapai 15%,” imbuhnya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun demikian, penting diingat jika permasalahan penanggulangan sampah di Jakarta tak bisa disamakan dengan daerah-daerah atau kota-kota lainnya. Ini lantaran kedudukan Jakarta sebagai ibukota negara sekaligus provinsi dengan penduduk yang heterogen. “Pada beberapa sisi, heterogenitas juga memengaruhi tingkat kepedulian mereka (masyarakat, red) pada Jakarta. Faktanya, banyak yang tak peduli karena merasa ini bukan kota mereka,” kata Eko lagi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Oleh karenanya, menjadi ‘peer’ tersendiri bagi Dinas Kebersihan untuk menanggulangi persoalan sampah di Jakarta. Di tingkat sumber, pola penanganan dibuat simultan serta melibatkan peran aktif masyarakat. Beberapa diantaranya antara lain program bank sampah untuk sampah-sampah anorganik, program 3R skala RT dan skala komunal.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;ITF&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;Sementara itu, penanggulangan sampah di dalam kota dilakukan dengan mendayagunakan ITF (intermediate treatment facility). Sampai saat ini, DKI Jakarta memiliki tiga ITF, yakni ITF Cakung Cilincing, ITF Sunter, dan ITF Marunda. &lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;Eko menjelaskan, yang dimaksud ITF yakni sebuah fasilitas pengolahan sampah di dalam kota dengan menggunakan teknologi yang modern, tepat guna dan ramah lingkungan. Tujuan dibangunnya ITF di dalam kota adalah untuk mengurangi beban volume sampah di TPST Regional melalui teknologi yang mampu mereduksi sampah hingga 90%. &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;Sebagai contoh, di ITF Cakung Cilincing akan segera diterapkan teknologi Mechanical Biological Treatment (MBT). Teknologi ini dipilih karena dianggap paling sesuai dengan karakteristik sampah di Indonesia, khususnya Jakarta yang bersifat lebih lembab (banyak mengandung air) dan tercampur-baur, karena tidak dilakukan proses pemisahan. Di samping itu, sampah di Jakarta yang kebanyakan berasal dari rumah tangga, restoran, atau hotel, terdiri dari makanan dan sampah sayuran serta material organik lainnya yang lebih mudah diuraikan secara organik.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;Tak hanya itu, sejumlah teknologi lain juga digunakan dalam pengelolaan sampah di dalam kota. Di ITF Marunda beberapa teknologi pengolahan sampah yang sudah mulai digunakan antara lain: methanisasi  (an-aerobic digestion), pengomposan (composting), thermal process (incinerator, pyrolisys/ gassifikasi), daur ulang (recycling), serta waste water treatment. “Semua teknologi ini digunakan guna mendukung program waste to energy. Jadi sampah tidak lagi dipandang sebagai musuh semata oleh manusia,” tandas Eko. &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;font-size:85%;" &gt;Tak Bisa Sendiri&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;Tak hanya ITF, wujud nyata pengelolaan sampah semaksimal mungkin juga ditunjukkan lewat keberhasilan Pemprov DKI dalam memanfaatkan gas metan dari sampah menjadi bahan bakar pembangkit listrik di TPST Bantargebang.  Keberhasilan ini bahkan digolongkan sebagai salah satu percontohan pengurangan efek pemanasan global dan telah mendapat pujian dunia internasional khususnya dalam forum Kelompok Kota C40 di Sao Paulo, Brasil. &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;Deputi Gubernur DKI Jakarta Bidang Tata Ruang dan Lingkungan Hidup, Ahmad Haryadi, mengatakan pengalaman Jakarta dalam mengelola sampah dapat dijadikan contoh bagi pemerintah kota lainnya di Indonesia. “Semoga pengalaman Jakarta bisa dijadikan contoh, mengingat adanya amanah UU No. 18 tahun 2008,” ujarnya.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;Menurut Eko, hal ini sesuai dengan pasal 44 ayat 2 UU No. 18 tahun 2008 yang menegaskan agar pemerintah daerah wajib menutup tempat pemusnahan akhir (TPA) dengan sistem open dumping atau pembuangan terbuka, paling lama lima tahun sejak berlakunya undang-undang tersebut. “Dinas Kebersihan DKI Jakarta sudah berpengalaman mengelola sampah dengan teknologi modern, tepat guna, dan ramah lingkungan. Salah satunya dengan pengelolaan sampah menjadi energi listrik dan kompos yang kita lakukan di TPST Bantargebang,” katanya. &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;Namun demikian, pengelolaan sampah di Jakarta bukan tanpa kendala. Diungkapkan Eko, kendala tersebut antara lain muncul dari minimnya kerjasama beberapa daerah penyangga. Misalnya terkait Tempat Pembuangan Sampah Terpadu (TPST) Ciangir. Sebagaimana diketahui bersama, Pemprov DKI Jakarta telah membeli lahan seluas 96 hektar di Kabupaten Tangerang yang akan dijadikan sebagai TPST di wilayah barat. Nantinya, jika TPST itu berfungsi, diperkirakan akan menampung sebanyak 3.000 ton sampah per hari. Persoalannya, sampah asal DKI Jakarta yang akan masuk ke TPST Ciangir diperkirakan hanya sebesar 1.000 ton per hari. “Oleh karena itu, agar tidak mubazir, kami mengajak wilayah lain seperti Pemkot Tangerang dan Tangsel utuk bekerja sama memanfaatkan keberadaan TPST Ciangir dalam pengolahan sampah,” jelasnya. &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;Ia menambahkan, Pemerintah Kota (Pemkot) Tangerang, saat ini sudah sepakat bekerjasama dengan memasok 700 ton sampah per hari. Sayang tidak demikian dengan Pemkot Tanerang Selatan (Tangsel) yang hingga kini belum menemui kesepakatan untuk bekerja sama. “Kalau kami, Pemprov DKI Jakarta pada dasarnya welcome saja,” imbuhnya. &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;Berkaitan dengan hal ini penting diingat jika penanggulangan sampah memerlukan biaya yang tidak sedikit. Ketua Program Pasca Sarjana Kajian Pengembangan Perkotaan Universitas Indonesia (KPP-UI), Komara Djaya, bahkan mengatakan dalam pengelolaan sampah kota, terdapat lima aspek yang berpengaruh yakni, pembiayaan, teknik operasional, kelembagaan, hukum, dan peran serta masyarakat. “Aspek pembiayaan perlu didalami dengan lebih baik karena pengelolaan sampah memerlukan biaya yang tidak sedikit sehingga sangat kritikal,” ucapnya.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt; Pembangunan TPST seperti di Bantargebang misalnya, memerlukan investasi hingga Rp 700 miliar, belum lagi biaya operasionalnya yang mencapai angka Rp 200 ribu per ton. Saat ini Pemprov DKI hanya mampu membiayai sebesar Rp 100 ribu per ton. Dengan besarnya biaya itu, Pemprov DKI pun perlu menggandeng wilayah lain. Nantinya TPST Ciangir, akan menampung sampah-sampah dari wilayah Jakarta Barat, Jakarta Selatan, dan Tangerang.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;Menurutnya, masalah penanggulangan sampah kota, bukan hanya tugas pemerintah kota atau pemerintah daerah saja, tetapi juga tanggung jawab semua pihak. Oleh karena itu, manajemen persampahan kota, selayaknya dirancang secara integratif mulai dari sumber sampah, proses pengumpulan, pewadahan, pengangkutan, dan pengolahan di tingkat awal hingga pada pengolahan di lokasi akhir. &lt;span style="font-weight: bold;"&gt;[Dhini Gilang Prasasti u/Media Jaya]&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;more..&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1907104877772613638-5586202591615001796?l=dhinigilangprasasti.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://dhinigilangprasasti.blogspot.com/feeds/5586202591615001796/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=1907104877772613638&amp;postID=5586202591615001796&amp;isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1907104877772613638/posts/default/5586202591615001796'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1907104877772613638/posts/default/5586202591615001796'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://dhinigilangprasasti.blogspot.com/2011/06/perihal-pengelolaan-sampah-di-jakarta.html' title='(Perihal) Pengelolaan Sampah di Jakarta'/><author><name>Dhini Gilang Prasasti</name><uri>http://www.blogger.com/profile/17786272930796266715</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='29' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/-JtjRHzZKFMg/Twnka1jMscI/AAAAAAAAA1E/4efluOKoYKQ/s220/IMG_5114.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1907104877772613638.post-4844341831523579523</id><published>2011-05-24T20:53:00.002+07:00</published><updated>2011-05-24T21:02:54.283+07:00</updated><title type='text'>Pentingnya Anger Management bagi Si Buah Hati</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;span style="font-style: italic; font-weight: bold; font-family: georgia;"&gt;Pentingnya penanaman anger management sejak dini setidaknya dijawab hasil penelitian Columbia University College AS: anak-anak yang secara konstan mengamuk cenderung tak puas akan hidupnya ketika menginjak usia 30. &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;span style="font-family: georgia;"&gt;Jarum jam tepat menunjuk pukul 16.00 WIB. Langit cerah. Sinar matahari juga mulai terasa bersahabat seiring gerak perlahannya menuju ufuk barat. Bagi anak-anak, saat seperti ini selalu jadi waktu yang ditunggu-tunggu untuk bisa bermain dengan teman-teman sebaya mereka. Tak terkecuali Raka, bocah berusia 3,5 tahun bertubuh agak tambun itu. &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;span style="font-family: georgia;"&gt;Sore itu, bermain sepeda menjadi pilihan Raka bersama tiga temannya: Daffa, Naila, dan Dani. Mereka, terutama Raka terlihat begitu asyik bermain sebelum beberapa waktu kemudian sang mama memanggilnya pulang. Tak kunjung mengindahkan panggilannya, sang mama akhirnya menghampiri dan memaksa Raka pulang. Bukan perkara tak boleh bermain. Ini lantaran dua minggu lalu Raka baru saja terkena thypus sehingga kesehatannya masih harus dijaga dengan baik. &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;span style="font-family: georgia;"&gt;Namun, reaksi yang diberikan Raka sungguh di luar dugaan. Ia marah. Beberapa saat kemudian bahkan menangis dan mengamuk. Upaya sang mama yang mencoba menenangkan tak digubris. Alih-alih mereda, tangisan yang disertai amukan itu justru semakin menjadi. Raka juga berlari ke arah pagar dan berteriak agar diperbolehkan bermain lagi bersama kedua temannya. &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;span style="font-family: georgia;"&gt;Lain Raka, lain pula Neisya. Meski anak perempuan dan usianya belum genap 2 tahun, Neisya mulai menunjukkan gejala serupa: hobi marah. Sudah hampir sebulan ini ia kerap bereaksi berlebihan di depan bundanya. Ia mulai ‘rajin’ melakukan protes keras jika keinginannya tidak dipenuhi atau ada ha-hal yang tak sesuai dengan kehendaknya. Bentuk protesnya itu, paling sering ia luapkan dengan cara berteriak atau melempar-lempar barang apapun yang ada di dekatnya. &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;span style="font-family: georgia;"&gt;Awalnya, sang bunda tak merasa janggal dengan reaksi yang diberikan putri pertamanya itu. Ia pikir itu wajar sebagai ungkapan emosional Neisya yang masih anak-anak. Namun, alih-alih berkurang, kecenderungan ini justru semakin menjadi. Ibaratnya, memenuhi apapun yang diinginkan Neisya merupakan satu-satunya jalan jika tidak ingin terjadi ‘huru-hara’. &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;span style="font-family: georgia;"&gt;Kegelisahan yang dialami ibunda Raka dan Neisya juga mungkin pernah terjadi pada Anda yang memiliki anak seusia mereka. Faktanya, beberapa anak memang memiliki kecenderungan untuk mengekspresikan rasa marah mereka dengan cara yang tidak semestinya bahkan cenderung agresif. Orang tua pun kerap dibuat pusing menghadapi perkara ini. Ibarat makan buah simalakama, dituruti salah, tidak dituruti semakin menjsadi-jadi. &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;span style="font-weight: bold; font-family: georgia;"&gt;Bukan Kesalahan&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;span style="font-family: georgia;"&gt;Munculnya perasaan marah pada anak-anak seperti yang terjadi pada Raka dan Neisya merupakan sesuatu yang tak bisa dihindari. Sebagaimana orang dewasa, anak-anak juga merupakan individu yang memiliki kebutuhan untuk mengungkapkan apa yang mereka rasakan, seperti senang, sedih, juga marah terhadap sesuatu. Suka atau tidak suka, setiap orang tua harus sadar dan menerima kenyataan bahwa buah hati mereka suatu saat bisa saja merasa marah. Fakta ini penting karena rasa marah, pada sisi yang lain juga berfungsi sebagai cara anak-anak berkomunikasi dengan lingkungan sekitarnya. &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;span style="font-family: georgia;"&gt;Hal tersebut dibenarkan psikolog yang juga staf pengajar di jurusan Psikologi Perkembangan Universitas Indonesia, Rini Hildayani, M.Si. Menurutnya, rasa marah merupakan bagian dari kebutuhan ekspresi seorang anak. “Marah merupakan bagian dari luapan emosi manusia, maka setiap orang punya potensi untuk merasakan kemarahan, bahkan dari bayi sekalipun (usia 6 bulan, red),” ujarnya. &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;span style="font-family: georgia;"&gt;Ada banyak faktor yang dapat memicu seorang anak merasa marah, baik berasal dari dalam diri (internal) maupun luar diri (eksternal). Faktor internal biasanya berupa faktor genetik, sementara faktor eksternal biasanya berasal dari pengaruh lingkungan sekitar, seperti pola asuh keluarga, kebiasaan-kebiasaan orang tua, lingkungan tempat tinggal, maupun lingkungan sekolah. &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;span style="font-family: georgia;"&gt;Fabes dan Eisenberg (1992) menjabarkan beberapa jenis provokasi munculnya rasa marah pada seorang yang seringkali terjadi dalam interaksi mereka di kelas (sekolah, red). Kelima provokasi tersebut yakni: (1) Konflik atas harta, yang melibatkan seseorang mengambil harta anak-anak lainnya;  (2) Fisik penyerangan, yang melibatkan satu anak melakukan sesuatu untuk anak lain, seperti mendorong atau memukul; (3) Konflik verbal, misalnya menggoda atau mengejek teman lainnya; (4) Adanya penolakan, sehingga seorang anak merasa diabaikan atau tidak diperbolehkan untuk bermain dengan teman-temannya, dan (5) Masalah kepatuhan, yang seringkali mengharuskan anak-anak melakukan sesuatu yang mereka tidak ingin lakukan, misalnya mencuci tangan mereka.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;span style="font-family: georgia;"&gt;Sementara itu, psikolog asal AS, Richard Niolon PhD, dalam halaman blognya yang berjudul Psychpage memaparkan, kemarahan pada anak-anak terutama timbul dari rasa ketidakberdayaan. Pada jenis-jenis situasi tertentu, anak-anak seringkali belum mampu memahami secara sepenuhnya dan merasa tak berdaya untuk mengubahnya. Di sisi lain, harus disadari pula bahwa kemarahan anak-anak umumnya merupakan ungkapan dari rasa frustrasi yang mereka alami. Frustasi itu sendiri dapat dipicu oleh rasa malu, kesepian, isolasi, gelisah, dan sakit hati. &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;span style="font-family: georgia;"&gt;Sampai di sini, jelas bahwa rasa marah pada anak-anak merupakan hal yang wajar sebagai bagian dari luapan emosi manusia. Oleh karenanya, memiliki maupun mengekspresikan rasa marah bukanlah sebuah kesalahan. Hal ini penting digarisbawahi oleh para orang tua mengingat sebagai bagian dari warisan budaya ‘timur’, tak sedikit dari kita yang sejak kecil diajarkan bahwa sebagai anak-anak, tidak boleh untuk marah, marah itu tidak baik, marah itu tidak sopan karena melawan orang tua, dan sebagainya. &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;span style="font-weight: bold; font-family: georgia;"&gt;Boleh Marah, Asal..&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;span style="font-family: georgia;"&gt;Lewis &amp;amp; Michalson (1983), membagi komponen kemarahan ke dalam tiga bagian: (1) &lt;span style="font-style: italic;"&gt;The emotional state of anger &lt;/span&gt;(emosi itu sendiri); (2) &lt;span style="font-style: italic;"&gt;Expression of anger&lt;/span&gt; (ekspresi kemarahan), dan (3) &lt;span style="font-style: italic;"&gt;An understanding of anger&lt;/span&gt; (pemahaman serta evaluasi dari rasa marah itu). Jika sebelumnya sudah dibahas mengenai rasa marah sebagai bagian dari luapan emosi yang wajar, selanjutnya adalah mengenai ekspresi dari rasa marah itu. Hal ini terutama bersinggungan dengan sejauh mana rasa marah pada anak-anak bisa ditolerir atau justru perlu diwaspadai.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;span style="font-family: georgia;"&gt;Meski dipicu oleh faktor yang sama, rasa marah bisa diekspresikan dengan cara berbeda-beda. Menurut Rini, kadar rasa marah pada setiap individu termasuk anak-anak, amat tergantung pada ambang batas kesabaran dan kesadaran masing-masing dalam menerima atau menghadapi sesuatu persoalan yang datang kepada dirinya. “Apa yang menyebabkan saya marah belum tentu menyebabkan orang lain marah, karena mungkin saja penerimaan kita terhadap persoalan tersebut berbeda, begitupula pada anak-anak,” katanya.  &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;span style="font-family: georgia;"&gt;Lebih lanjut ia mengungkapkan, jika ekspresi dari rasa marah itu mulai menimbulkan gesekan antara si anak dengan lingkungannya, orang tua harus mulai waspada. Paling mudah, batasannya dapat diukur dari dua hal: bagaimana cara seorang anak mengekspresikan rasa marah itu, serta apakah ekspresi kemarahan itu sebanding dengan faktor pemicu yang menyebabkan atau membangkitkan kemarahan mereka. &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;span style="font-family: georgia;"&gt;Di poin pertama, penting bagi para orang tua untuk mengetahui perbedaan rasa marah dan perilaku agresif. Baik Rini maupun Richard Niolon sama-sama sepakat jika rasa marah tetap berbeda dengan agresi. Kemarahan adalah sebuah perasaan, sementara agresi adalah perilaku. Kemarahan adalah keadaan emosi sementara yang disebabkan oleh frustrasi, sementara agresi seringkali merupakan perwujudan rasa marah yang berbentuk sebagai usaha untuk menyakiti seseorang atau merusak properti. “Sedini mungkin, orang tua harus mampu menanamkan kepada anak-anak bahwa marah boleh, agresi tidak,” tandas Rini.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;span style="font-family: georgia;"&gt;Pada anak-anak dengan usia di bawah lima tahun, ekspresi atau manifestasi rasa marah juga kerap kali berwujud dalam bentuk amukan (tantrum). Dalam istilah psikologi perkembangan, temper tantrum (atau yang sering disebut dengan tantrum saja, red) merupakan ekspresi dari luapan emosi yang meledak-ledak dan tidak terkontrol.  Manifestasi tantrum ini beragam, mulai dari hanya merengek dan menangis saja, menjerit-jerit, mengguling-gulingkan badan di lantai, menendang, memukul, mencakar, bahkan ada yang sampai beraksi menahan nafas.  Tantrum sering muncul pada anak usia satu hingga tiga tahun,  meskipun tidak selalu berarti perilaku ini akan menghilang dengan sendirinya setelah anak mencapai usia tiga tahun.  &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;span style="font-family: georgia;"&gt;Baik agresi maupun tantrum merupakan ekspresi rasa marah anak yang perlu diwaspadai oleh para orang tua, apalagi jika kedua reaksi tersebut tidak sebanding dengan faktor pemicunya. Namun demikian, sebagaimana diungkapkan Zeman &amp;amp; Shipman (1996), kemampuan untuk mengatur ekspresi kemarahan terkait dengan pemahaman tentang emosi. Permasalahannya, kemampuan anak untuk merefleksikan kemarahan masih terbatas, sehingga mereka memerlukan bimbingan dari orang tua dalam memahami dan mengelola mereka perasaan marah. “Pada bagian inilah anger management bekerja,” tegas Rini.   &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;span style="font-weight: bold; font-family: georgia;"&gt;Anger Management&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;span style="font-family: georgia;"&gt;Mengacu pada pendapat Lewis &amp;amp; Michalson, komponen terakhir yang harus dipahami orang tua dalam menanggapi rasa marah pada anak yakni &lt;span style="font-style: italic;"&gt;an understanding of anger &lt;/span&gt;(pemahaman dari rasa marah itu sendiri). Pekerjaan rumah utama dari komponen terakhir ini adalah menanamkan bagaimana cara mengelola dan menyalurkan kemarahan ke arah yang positif. Dengan begitu, alih-alih ‘membakar’ dirinya, rasa marah diharapkan mampu dikelola dengan baik sehingga membuat seorang anak menjadi lebih produktif.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;span style="font-family: georgia;"&gt;Dalam istilah psikologi, strategi tersebut dikenal dengan istilah &lt;span style="font-style: italic;"&gt;anger management &lt;/span&gt;(teknik mengelola kemarahan). Teknik ini umumnya mengacu pada sebuah sistem terapi psikologis dan latihan di mana seseorang dengan rasa marah berlebihan atau tidak terkendali (agresi), dapat mengontrol atau mengurangi pemicu, derajat, dan efek rasa marah itu sendiri &lt;span style="font-style: italic;"&gt;(coping). &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;span style="font-family: georgia;"&gt;Dewasa ini, teknik &lt;span style="font-style: italic;"&gt;anger management &lt;/span&gt;dianggap memiliki peranan penting dalam pengembangan diri bahkan tingkat kesuksesan seseorang. Mereka yang memiliki kemampuan anger management yang baik, apalagi sejak dini, terbukti memiliki kecenderungan hidup yang lebih terarah dan bahagia dibandingkan mereka yang tidak. Setidaknya, ini yang ditunjukkan hasil penelitian Columbia University College AS. Pada 2000 silam, universitas ini melakukan penelitian terhadap orang-orang kelahiran 1970 yang kerap mengalami agresi dan tantrum di masa anak-anak mereka. Hasilnya mengejutkan, mereka yang secara konstan mengamuk cenderung tak puas akan hidupnya—pada waktu itu baru menginjak usia 30 tahun. &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;span style="font-family: georgia;"&gt;Oleh sebab itu, sebagaimana ditegaskan Rini, anak-anak sedini mungkin seharusnya diperkenalkan dengan teknik &lt;span style="font-style: italic;"&gt;anger management.&lt;/span&gt; Tentu saja, hal ini dilakukan dengan pola-pola tersendiri yang ‘serupa tapi tak sama’ dengan teknik &lt;span style="font-style: italic;"&gt;anger management &lt;/span&gt;pada orang dewasa. &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;span style="font-family: georgia;"&gt;Langkah pertama dalam mengajarkan &lt;span style="font-style: italic;"&gt;anger management&lt;/span&gt; pada anak-anak adalah membantu mereka memahami gejala awal ketika rasa marah itu muncul. Menurut Rini, secara fisik, tanda-tanda munculnya rasa marah dalam diri seorang anak dapat dilihat dari tiga hal: bernapas lebih cepat,  wajah berubah merah, dan otot serta kulit terasa tegang dan ketat. Dengan memberitahu mereka tentang gejala awal munculnya rasa marah ini, diharapkan anak-anak akan menyadari bahwa mereka merasa marah terhadap sesuatu yang mungkin membuat mereka frustasi.    &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;span style="font-family: georgia;"&gt; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;span style="font-family: georgia;"&gt;Tahap selanjutnya, jika anak-anak sudah memasuki usia dimana mereka bisa diajak berbicara, mulailah mencari tahu apa yang mereka rasakan atau mengapa mereka marah. Tanyakan kepada mereka apa yang terjadi, apa yang salah, atau mengapa mereka merasa apa yang mereka rasakan. Di sini, biasanya akan ada dua jenis reaksi yang muncul: anak-anak mungkin dapat memberitahu Anda sebagai orang tua dengan bahasa yang sangat jelas atau justru memerlukan bantuan Anda untuk memaknai perasaan mereka. Di sini, penting diingat oleh para orang tua untuk mampu mengendalikan diri agar anak tak merasa tertekan. Alih-alih mempersalahkan, pembicaraan sebaiknya dilakukan dengan cara berdialog dan menggali apa yang sesungguhnya dirasakan oleh sang anak.  &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;span style="font-family: georgia;"&gt;Jika anak sudah mengungkapkan apa yang mereka rasakan, orang tua dapat berlaku kreatif dengan mengajarkan anak-anak untuk ‘mentransfer’ rasa marah yang mereka miliki dalam bentuk yang lain, misalnya melalui tulisan, gambar, atau justru melakukan permainan tertentu. “Selain membantu anak untuk mengkomunikasikan apa yang mereka rasakan, cara ini juga diharapkan mampu melatih anak untuk belajar mengalihkan rasa marah mereka dengan melakukan hal-hal yang sifatnya positif. “Pada akhirnya, anak bisa belajar, dan bukan tidak mungkin energi kemarahan itu memicu mereka untuk menjadi semakin produktif, “ kata Rini. &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;span style="font-family: georgia;"&gt;Kesulitan terbesar orang tua adalah ketika anak-anak terlanjur mengalami agresi atau tantrum. Tak sedikit orang tua yang dibuat jengkel dan putus asa menghadapi anak-anak yang mengalami kedua hal tersebut. Hal pertama yang harus diingat adalah tetap tenang menghadapi reaksi anak. Kemudian, jika berbicara tak lagi mampu meredam apa yang mereka rasakan, orang tua boleh sejenak ‘mengabaikan’ buah hati mereka. Cara ini berfungsi memberikan waktu sekaligus mengajarkan disiplin kepada seorang anak, bahwa tidak selamanya agresi dan tantrum itu berhasil mewujudkan sesuatu yang mereka inginkan. &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;span style="font-family: georgia;"&gt;Namun demikian, sebagaimana diungkapkan Rini, cara terbaik menanamkan ataupun mengajarkan&lt;span style="font-style: italic;"&gt; anger management &lt;/span&gt;pada seorang anak adalah tetap dengan menjadi contoh terbaik bagi mereka. Anak-anak, pada usianya, belajar dan menyerap apapun yang diberikan oleh lingkungan di sekitarnya. Oleh karenanya, menjadi &lt;span style="font-style: italic;"&gt;role model &lt;/span&gt;terbaik adalah peran yang harus dimiliki oleh setiap orang tua sebagai bagian dari &lt;span style="font-style: italic;"&gt;micro system&lt;/span&gt; seorang anak, termasuk dalam hal mengendalikan emosi atau rasa marah yang Anda miliki sendiri! &lt;/span&gt;&lt;span style="font-weight: bold; font-family: georgia;"&gt; [Dhini Gilang Prasasti u/Intisari]&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;more..&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1907104877772613638-4844341831523579523?l=dhinigilangprasasti.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://dhinigilangprasasti.blogspot.com/feeds/4844341831523579523/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=1907104877772613638&amp;postID=4844341831523579523&amp;isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1907104877772613638/posts/default/4844341831523579523'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1907104877772613638/posts/default/4844341831523579523'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://dhinigilangprasasti.blogspot.com/2011/05/pentingnya-anger-management-bagi-si.html' title='Pentingnya Anger Management bagi Si Buah Hati'/><author><name>Dhini Gilang Prasasti</name><uri>http://www.blogger.com/profile/17786272930796266715</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='29' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/-JtjRHzZKFMg/Twnka1jMscI/AAAAAAAAA1E/4efluOKoYKQ/s220/IMG_5114.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1907104877772613638.post-1237017108474402210</id><published>2011-03-20T08:16:00.005+07:00</published><updated>2011-03-20T08:40:12.356+07:00</updated><title type='text'>Laporkan Dugaan Tipikor, Siapa Takut?</title><content type='html'>&lt;!--[if !mso]&gt; &lt;style&gt; v\:* {behavior:url(#default#VML);} o\:* {behavior:url(#default#VML);} w\:* {behavior:url(#default#VML);} .shape {behavior:url(#default#VML);} &lt;/style&gt; &lt;![endif]--&gt;&lt;!--[if gte mso 9]&gt;&lt;xml&gt;  &lt;w:worddocument&gt;   &lt;w:view&gt;Normal&lt;/w:View&gt;   &lt;w:zoom&gt;0&lt;/w:Zoom&gt;   &lt;w:trackmoves&gt;false&lt;/w:TrackMoves&gt;   &lt;w:trackformatting/&gt;   &lt;w:punctuationkerning/&gt;   &lt;w:validateagainstschemas/&gt;   &lt;w:saveifxmlinvalid&gt;false&lt;/w:SaveIfXMLInvalid&gt;   &lt;w:ignoremixedcontent&gt;false&lt;/w:IgnoreMixedContent&gt;   &lt;w:alwaysshowplaceholdertext&gt;false&lt;/w:AlwaysShowPlaceholderText&gt;   &lt;w:donotpromoteqf/&gt;   &lt;w:lidthemeother&gt;IN&lt;/w:LidThemeOther&gt;   &lt;w:lidthemeasian&gt;X-NONE&lt;/w:LidThemeAsian&gt;   &lt;w:lidthemecomplexscript&gt;X-NONE&lt;/w:LidThemeComplexScript&gt;   &lt;w:compatibility&gt;    &lt;w:breakwrappedtables/&gt;    &lt;w:snaptogridincell/&gt;    &lt;w:wraptextwithpunct/&gt;    &lt;w:useasianbreakrules/&gt;    &lt;w:dontgrowautofit/&gt;    &lt;w:splitpgbreakandparamark/&gt;    &lt;w:dontvertaligncellwithsp/&gt;    &lt;w:dontbreakconstrainedforcedtables/&gt;    &lt;w:dontvertalignintxbx/&gt;    &lt;w:word11kerningpairs/&gt;    &lt;w:cachedcolbalance/&gt;   &lt;/w:Compatibility&gt;   &lt;m:mathpr&gt;    &lt;m:mathfont val="Cambria Math"&gt;    &lt;m:brkbin val="before"&gt;    &lt;m:brkbinsub val="--"&gt;    &lt;m:smallfrac val="off"&gt;    &lt;m:dispdef/&gt;    &lt;m:lmargin val="0"&gt;    &lt;m:rmargin val="0"&gt;    &lt;m:defjc val="centerGroup"&gt;    &lt;m:wrapindent val="1440"&gt;    &lt;m:intlim val="subSup"&gt;    &lt;m:narylim val="undOvr"&gt;   &lt;/m:mathPr&gt;&lt;/w:WordDocument&gt; &lt;/xml&gt;&lt;![endif]--&gt;&lt;!--[if gte mso 9]&gt;&lt;xml&gt;  &lt;w:latentstyles deflockedstate="false" defunhidewhenused="true" defsemihidden="true" defqformat="false" defpriority="99" latentstylecount="267"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="0" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="Normal"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="9" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="heading 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="9" qformat="true" name="heading 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="9" qformat="true" name="heading 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="9" qformat="true" name="heading 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="9" qformat="true" name="heading 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="9" qformat="true" name="heading 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="9" qformat="true" name="heading 7"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="9" qformat="true" name="heading 8"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="9" qformat="true" name="heading 9"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="39" name="toc 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="39" name="toc 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="39" name="toc 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="39" name="toc 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="39" name="toc 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="39" name="toc 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="39" name="toc 7"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="39" name="toc 8"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="39" name="toc 9"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="35" qformat="true" name="caption"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="10" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="Title"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="1" name="Default Paragraph Font"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="11" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="Subtitle"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="22" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="Strong"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="20" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="Emphasis"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="59" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Table Grid"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" unhidewhenused="false" name="Placeholder Text"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="1" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="No Spacing"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="60" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Shading"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="61" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light List"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="62" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Grid"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="63" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="64" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="65" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="66" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="67" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="68" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="69" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="70" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Dark List"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="71" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Shading"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="72" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful List"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="73" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Grid"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="60" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Shading Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="61" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light List Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="62" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Grid Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="63" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 1 Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="64" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 2 Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="65" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 1 Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" unhidewhenused="false" name="Revision"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="34" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="List Paragraph"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="29" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="Quote"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="30" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="Intense Quote"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="66" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 2 Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="67" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 1 Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="68" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 2 Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="69" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 3 Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="70" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Dark List Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="71" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Shading Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="72" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful List Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="73" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Grid Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="60" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Shading Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="61" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light List Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="62" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Grid Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="63" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 1 Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="64" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 2 Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="65" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 1 Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="66" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 2 Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="67" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 1 Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="68" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 2 Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="69" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 3 Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="70" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Dark List Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="71" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Shading Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="72" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful List Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="73" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Grid Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="60" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Shading Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="61" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light List Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="62" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Grid Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="63" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 1 Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="64" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 2 Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="65" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 1 Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="66" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 2 Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="67" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 1 Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="68" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 2 Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="69" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 3 Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="70" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Dark List Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="71" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Shading Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="72" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful List Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="73" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Grid Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="60" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Shading Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="61" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light List Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="62" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Grid Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="63" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 1 Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="64" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 2 Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="65" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 1 Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="66" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 2 Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="67" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 1 Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="68" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 2 Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="69" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 3 Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="70" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Dark List Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="71" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Shading Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="72" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful List Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="73" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Grid Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="60" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Shading Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="61" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light List Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="62" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Grid Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="63" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 1 Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="64" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 2 Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="65" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 1 Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="66" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 2 Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="67" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 1 Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="68" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 2 Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="69" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 3 Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="70" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Dark List Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="71" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Shading Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="72" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful List Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="73" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Grid Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="60" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Shading Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="61" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light List Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="62" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Grid Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="63" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 1 Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="64" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 2 Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="65" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 1 Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="66" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 2 Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="67" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 1 Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="68" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 2 Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="69" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 3 Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="70" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Dark List Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="71" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Shading Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="72" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful List Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="73" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Grid Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="19" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="Subtle Emphasis"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="21" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="Intense Emphasis"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="31" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="Subtle Reference"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="32" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="Intense Reference"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="33" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="Book Title"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="37" name="Bibliography"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="39" qformat="true" name="TOC Heading"&gt;  &lt;/w:LatentStyles&gt; &lt;/xml&gt;&lt;![endif]--&gt;&lt;!--[if gte mso 10]&gt; &lt;style&gt;  /* Style Definitions */  table.MsoNormalTable  {mso-style-name:"Table Normal";  mso-tstyle-rowband-size:0;  mso-tstyle-colband-size:0;  mso-style-noshow:yes;  mso-style-priority:99;  mso-style-qformat:yes;  mso-style-parent:"";  mso-padding-alt:0cm 5.4pt 0cm 5.4pt;  mso-para-margin-top:0cm;  mso-para-margin-right:0cm;  mso-para-margin-bottom:10.0pt;  mso-para-margin-left:0cm;  line-height:115%;  mso-pagination:widow-orphan;  font-size:11.0pt;  font-family:"Calibri","sans-serif";  mso-ascii-font-family:Calibri;  mso-ascii-theme-font:minor-latin;  mso-hansi-font-family:Calibri;  mso-hansi-theme-font:minor-latin;  mso-bidi-font-family:"Times New Roman";  mso-bidi-theme-font:minor-bidi;  mso-fareast-language:EN-US;} &lt;/style&gt; &lt;![endif]--&gt;&lt;!--[if gte mso 9]&gt;&lt;xml&gt;  &lt;o:shapedefaults ext="edit" spidmax="2050"&gt; &lt;/xml&gt;&lt;![endif]--&gt;&lt;!--[if gte mso 9]&gt;&lt;xml&gt;  &lt;o:shapelayout ext="edit"&gt;   &lt;o:idmap ext="edit" data="1"&gt;  &lt;/o:shapelayout&gt;&lt;/xml&gt;&lt;![endif]--&gt;          &lt;p class="MsoNormal"  style="margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify; line-height: normal;font-family:georgia;"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;span style="font-size:16pt;"&gt;&lt;/span&gt;Ibarat kalah sebelum perang, tak jarang mereka yang ‘mengendus’ indikasi praktik tindak pidana korupsi di tempat kerja urung melapor ke pihak&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;berwenang. Alasannya sederhana tapi cukup mengena: takut! &lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal"  style="margin-bottom: 0.0001pt; text-align: right; line-height: normal;font-family:georgia;" align="right"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"  style="margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify; text-indent: 36pt; line-height: normal;font-family:georgia;"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;Sudah satu bulan ini, Aswan, bukan nama sebenarnya, tak lagi pulang ke rumahnya yang terletak di kawasan timur Jakarta. Ia dan istri serta dua orang anaknya, untuk sementara waktu harus rela ‘berjauhan’ dengan rumah mereka selama menjalani relokasi sebagai bentuk perlindungan fisik yang diberikan Lembaga Perlindungan Saksi dan Korban (LPSK). &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"  style="margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify; text-indent: 36pt; line-height: normal;font-family:georgia;"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;Sejak memberanikan diri untuk melaporkan dugaan adanya tindak pidana korupsi di instansi tempatnya bekerja, Aswan memang mengkhawatirkan keselamatan diri dan keluarganya. Oleh karenanya, demi mencegah terjadinya hal-hal yang tak diinginkan, ia memutuskan untuk mengajukan permohonan perlindungan kepada LPSK. Paling tidak, selama proses hukum atas kasus yang dilaporkannya berjalan.&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"  style="margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify; text-indent: 36pt; line-height: normal;font-family:georgia;"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;Lain Aswan, lain pula Indra (lagi-lagi bukan nama sebenarnya). Kepada LPSK, ayah satu anak ini memaparkan soal sikap atasan yang tak lagi bersahabat setelah ia melaporkan dugaan adanya tindak pidana korupsi di kantornya. Ia merasa mendapat sejumlah tekanan dan intimidasi yang membuatnya tak lagi nyaman bekerja. Lebih memperihatinkan lagi, meski tak pernah merasa mengajukan permohonan pindah bagian, ia diancam akan segera dipindahkan dengan alasan yang terkesan dibuat-buat. &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"  style="margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify; text-indent: 36pt; line-height: normal;font-family:georgia;"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;Indra teramat paham bahwa perlakuan yang dialaminya sekarang merupakan konsekuensi dari keberaniannya melapor. Tapi jangan salah, ia bukan tak sadar akan risiko ini. Meski sempat bimbang, kebulatan tekadnya mengalahkan keraguannya. Oleh karenanya, sebagai jalan keluar agar hak-haknya tak terus-menerus dikebiri, Indra memilih mengajukan permohonan perlindungan&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;kepada LPSK. &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"  style="margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify; text-indent: 36pt; line-height: normal;font-family:georgia;"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;Laiknya fenomena gunung es, apa yang dialami Aswan dan Indra mungkin hanya menggambarkan sedikit keseharian para &lt;i style=""&gt;whistle blower &lt;/i&gt;dugaan terjadinya tindak pidana korupsi di sekitar kita. Ancaman, intimidasi, dan tekanan, tak jarang mewarnai hari-hari seorang &lt;i style=""&gt;whistle blower.&lt;/i&gt; Meski beberapa dari mereka, seperti Aswan dan Indra memilih tetap melaporkan hal tersebut, tak sedikit pula yang keburu ‘ciut’ dan urung melapor karena khawatir pelbagai risiko yang mungkin akan ditanggungnya. &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"  style="margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify; text-indent: 36pt; line-height: normal;font-family:georgia;"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;Padahal, untuk kepentingan tersebut, sebuah lembaga negara bernama Lembaga Perlindungan Saksi dan Korban (LPSK) telah resmi berdiri sejak dua tahun lalu. Sebagaimana nama yang diusungnya, lembaga ini berfungsi memberikan perlindungan bagi para saksi (juga korban) yang mengajukan permohonan perlindungan baik secara fisik maupun non-fisik, termasuk di dalamnya para &lt;i style=""&gt;whistle blower&lt;/i&gt; kasus korupsi. Syaratnya: laporan harus akurat dan tidak mengada-ada!&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;&lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"  style="margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify; line-height: normal;font-family:georgia;"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt; &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"  style="margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify; line-height: normal;font-family:georgia;"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;b style=""&gt;Bukan Hal Baru&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"  style="margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify; line-height: normal;font-family:georgia;"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;span style=""&gt;                &lt;/span&gt;Keberadaan lembaga perlindungan saksi dan korban seperti LPSK bukanlah hal baru. Di sejumlah negara lain, lembaga seperti ini bahkan telah berdiri sejak puluhan tahun lalu. Ihwalnya, program perlindungan saksi dipandang sebagai alat penting dalam melawan kejahatan yang sifatnya terorganisir. &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"  style="margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify; text-indent: 36pt; line-height: normal;font-family:georgia;"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;Sebagai pioner, Amerika Serikat (AS) memulai program perlindungan saksi pada 1960-an.&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Awalnya, program perlindungan saksi diusulkan sebagai suatu prosedur hukum yang dapat digunakan dalam hubungannya dengan program pembongkaran kejahatan terorganisir yang dilakukan sejumlah kelompok mafia. &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"  style="margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify; text-indent: 36pt; line-height: normal;font-family:georgia;"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;Saat itu, di Amerika, sulit untuk membongkar kejahatan yang dilakukan mafia karena di kalangan tersebut berlaku apa yang disebut “sumpah diam” – &lt;i style=""&gt;omerta.&lt;/i&gt; Sumpah tersebut merupakan semacam aturan tidak tertulis di antara anggota mafia yang tak dapat digoyahkan. Tak hanya itu, aturan tersebut juga mengancam nyawa siapapun yang berani melanggar atau bersentuhan dengan aparat penegak hukum. Maka tak heran jika pada saat itu, saksi kunci kerap ‘menghilang’ karena upaya pimpinan kelompok yang tak ingin kejahatannya terbongkar. &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"  style="margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify; text-indent: 36pt; line-height: normal;font-family:georgia;"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;Pengalaman ini meyakinkan Departemen Hukum AS bahwa suatu program perlindungan saksi perlu dibentuk. Pada 1970, Undang-undang Pengendalian Kejahatan Terorganisir memberikan wewenang kepada Jaksa Agung Amerika Serikat untuk memberikan keamanan terhadap saksi yang ingin bekerja sama dengan memberikan kesaksiannya pada kasus yang melibatkan kejahatan terorganisir dan bentuk kejahatan serius lainnya. &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"  style="margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify; text-indent: 36pt; line-height: normal;font-family:georgia;"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;Berdasarkan wewenang Jaksa Agung, Program &lt;i style=""&gt;Witness Security&lt;/i&gt; (&lt;i style=""&gt;WITSEC&lt;/i&gt;- Keamanan Saksi) Amerika Serikat memastikan keamanan fisik saksi yang berada dalam risiko melalui pemindahan ke tempat tinggal baru disertai perubahan nama dan sejumlah identitas baru lainnya. Awalnya program ini mengalami berbagai hambatan, namun pada 1984, pascaberoperasi selama lebih dari satu dekade, berbagai kekurangan yang dihadapi Program &lt;i style=""&gt;WITSEC&lt;/i&gt; telah dilengkapi ddan disempurnakan dengan lahirnya Undang-undang Reformasi Keamanan. &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"  style="margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify; text-indent: 36pt; line-height: normal;font-family:georgia;"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;Di Inggris, pendekatan perlindungan saksi yang lebih radikal telah dikembangkan oleh beberapa kesatuan polisi dengan melibatkan relokasi saksi secara permanen dan rahasia ke daerah yang lebih aman. Program yang dibuat berdasarkan model Program &lt;i style=""&gt;WITSEC&lt;/i&gt; yang dimiliki AS tersebut dipelopori oleh &lt;i style=""&gt;Metropolitan Police&lt;/i&gt; dan &lt;i style=""&gt;The Royal Ulster Constabulary,&lt;/i&gt;&lt;i style=""&gt;Metropolitan Police&lt;/i&gt; yang daerah kekuasaannya mencakup London, membuat sebuah pasukan khusus untuk melakukan relokasi saksi pada 1978. Dalam jangka waktu 15 tahun, mereka telah berhasil merelokasi lebih dari 400 saksi. Pada era 1990-an, beberapa kesatuan polisi lain di Inggris seperti Kepolisian &lt;i style=""&gt;Greater Manchester, Gampshire Constabulary, Merseyside Police, Northumbria Police, West Yorkshire Constabulary,&lt;/i&gt; juga membuat unit-unit spesialis untuk merelokasi para saksi dan keluarga mereka yang nyawanya terancam.&lt;span style=""&gt;   &lt;/span&gt; yang telah merelokasi para saksi yang melibatkan kejahatan organisir sejak akhir 1970-an. &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"  style="margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify; text-indent: 36pt; line-height: normal;font-family:georgia;"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;Berbeda dengan AS dan Inggris, semangat dibentuknya program perlindungan saksi di Hong Kong lahir sebagai reaksi terhadap upaya reformasi kepolisian pada 1994. Kepolisan Hong Kong membentuk program perlindungan saksi &lt;i style=""&gt;ad hoc. &lt;/i&gt;Pada 1998, program serupa juga dibentuk di bawah Komisi Independen Melawan Korupsi (&lt;i style=""&gt;Independent Comission Against Corruption&lt;/i&gt; – ICAC). Dua tahun kemudian, diberlakukan juga Peraturan Perlindungan Saksi untuk memberikan dasar perlindungan dan bantuan lainnya kepada saksi dan orang yang berasosiasi dengan saksi, terutama berkaitan dengan kasus-kasus dugaan korupsi yang terjadi di Hong Kong. Hampir mirip dengan perlindungan saksi di Indonesia, peraturan ini memberikan kriteria yang seragam untuk berjalannya program perlindungan saksi kasus-kasus dugaan korupsi yang telah dibentuk oleh Kepolisian Hong Kong dan ICAC. &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"  style="margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify; line-height: normal;font-family:georgia;"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt; &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"  style="margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify; line-height: normal;font-family:georgia;"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;b style=""&gt;Keberadaan LPSK&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"  style="margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify; line-height: normal;font-family:georgia;"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;span style=""&gt;                            &lt;/span&gt;&lt;/b&gt;Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), yang disebut saksi adalah&lt;b style=""&gt; &lt;/b&gt;orang yang melihat atau mengetahui sendiri suatu peristiwa (kejadian). Bisa juga dipahami sebagai orang yang dimintai hadir pada suatu peristiwa yang dianggap mengetahui kejadian tersebut agar pada suatu ketika, apabila diperlukan, dapat memberikan keterangan yang membenarkan bahwa peristiwa itu sungguh-sungguh terjadi. &lt;b style=""&gt;&lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"  style="margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify; line-height: normal;font-family:georgia;"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;span style=""&gt;                                &lt;/span&gt;Gong perlindungan saksi di Indonesia pertama kali berdengung pada 2006 seiring munculnya UU No.13 Tahun 2006 tentang Perlindungan Saksi dan Korban. Hal tersebut, sebagaimana diungkapkan Ketua LPSK Abdul Haris Semendawai, dilatarbelakangi oleh maraknya pengalaman empirik soal praktik intimidasi dan ancaman yang kerap menimpa para saksi, baik terhadap integritas fisik atau psikisnya. Tentu bukan hal yang mengherankan mengingat keterangan saksi dan atau korban merupakan salah satu alat bukti yang sangat penting kedudukannya dalam sebuah proses hukum. &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"  style="margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify; text-indent: 36pt; line-height: normal;font-family:georgia;"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;Masih menurut Dawai, sapaan akrabnya, banyaknya pelapor yang tidak bersedia menjadi saksi disebabkan minimnya jaminan yang memadai bagi para saksi, baik dari segi kebijakan maupun peraturan. “Terutama jaminan atas hak-hak tertentu ataupun mekanisme dalam bersaksi, misalnya apakah terdapat kekerasan fisik atau pertanyaan yang bersifat menjebak saat saksi tersebut menjalani pemeriksaan,” terangnya.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"  style="margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify; text-indent: 36pt; line-height: normal;font-family:georgia;"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;span style=""&gt;Di sinilah LPSK berperan. Sesuai semangat pendiriannya, lembaga ini berfungsi memberikan perlindungan kepada para saksi yang memiliki kedudukan vital dalam suatu proses hukum. Sejak berdiri pada 2008, terbukti terjadi peningkatan signifikan terhadap permohonan perlindungan&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;yang masuk, mulai dari 10 permohonan pada 2008, 74 Permohonan pada 2009, dan 153 peromohonan pada 2010. “Tahun ini, pada Januari saja sudah masuk 50 permohonan. Jika jumlahnya konstan, mungkin hingga akhir 2011 nanti kita bisa terima sekitar 500-600 permohonan,” tutur Dawai. &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"  style="margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify; text-indent: 36pt; line-height: normal;font-family:georgia;"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;Tentunya, tidak setiap permohonan langsung memeroleh perlindungan. Ada proses telaah yang dilakukan pihak internal LPSK terhadap keakuratan informasi yang disampaikan oleh saksi yang bersangkutan. &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"  style="margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify; text-indent: 36pt; line-height: normal;font-family:georgia;"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;Bicara soal saksi, menurut Dawai, saat ini ada dua kecenderungan karakter saksi di Indonesia: terlalu takut dan terlalu berani. Mereka yang terlalu takut, pada akhirnya memilih untuk mengurungkan niatnya karena khawatir akan segala risiko yang akan dihadapi, sementara mereka yang terlalu berani kerap gegabah dalam memberikan laporan. &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"  style="margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify; text-indent: 36pt; line-height: normal;font-family:georgia;"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;Saksi dugaan tindak pidana korupsi misalnya. Sesuai data yang dihimpun tim LPSK, permohonan perlindungan terkait kasus ini merupakan yang kedua tertinggi setelah kasus pidana umum seperti pembunuhan, penganiayaan, dan sebagainya. Oleh karenanya, LPSK kerap mengingatkan pentingnya para &lt;i style=""&gt;whistle blower&lt;/i&gt; untuk tidak bertindak gegabah. “Karena banyak juga yang belum apa-apa sudah publikasi besar-besaran di media massa,” imbuh Dawai lagi. &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"  style="margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify; text-indent: 36pt; line-height: normal;font-family:georgia;"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;Ia menambahkan, tindakan gegabah semacam publikasi itu bukan tanpa risiko. Risiko pertama adalah identitas pelapor dapat dengan mudah diketahui orang banyak. Kedua, jika laporannya belum atau tidak terbukti, si pelapor bisa saja dikenakan pasal pencemaran nama baik oleh orang yang tidak menyukai tindakannya. “Salah-salah bisa jadi bumerang. Ingat, tujuan melaporkan itu bukan untuk mempermalukan lewat publikasi tapi melakukan proses hukum,” katanya. &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"  style="margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify; text-indent: 36pt; line-height: normal;font-family:georgia;"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;Oleh karenanya, Dawai mengingatkan, pentingnya seorang saksi, terutama para &lt;i style=""&gt;whistle blower&lt;/i&gt; korupsi untuk berkonsultasi dengan LPSK sebelum melaporkan dugaan tindak pidana korupsi. Bentuk konsultasi ini, tak hanya bermanfaat bagi mereka yang takut, tapi juga mampu meminimalisir risiko serangan balik terhadap saksi yang bersangkutan. Melalui konsultasi ini, pertama-tama LPSK akan melakukan telaah terhadap isu yang dilaporkan. LPSK juga akan mengadakan koordinasi dengan aparat berwenang yang berkaitan langsung, Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) misalnya. &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"  style="margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify; text-indent: 36pt; line-height: normal;font-family:georgia;"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;Jika kemudian saksi mengajukan permohonan perlindungan karena merasa keamanannya terancam selama masa pemeriksaan atau persidangan, ia bisa mengajukan permohonan perlindungan kepada LPSK. Penilaian perlu tidaknya perlindungan selanjutnya akan diputuskan dalam rapat paripurna LPSK dengan mempertimbangkan sejumlah faktor seperti tingkat ancaman terhadap kehidupan seseorang, kepribadian dan kesehatan fisik saksi, dan nilai keterangan saksi di persidangan. &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"  style="margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify; text-indent: 36pt; line-height: normal;font-family:georgia;"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;Sementara itu, bentuk perlindungan yang diberikan LPSK bisa beragam, mulai dari perlindungan fisik berupa pengawalan hingga relokasi tempat tinggal seperti yang dialami Aswan, perlindungan psikis (pendampingan), perlindungan hukum, bantuan, hingga kompensasi. Jika diminta, perlindungan juga bisa berlaku bagi keluarga saksi, terutama keluarga inti (istri/suami dan anak-anak). &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"  style="margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify; text-indent: 36pt; line-height: normal;font-family:georgia;"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;Selain bentuk, jangka waktu berlakunya perlindungan tersebut juga diputuskan melalui rapat paripurna anggota LPSK. Biasanya, sebagai langkah awal, perlindungan akan diberikan selama tiga hingga enam bulan. Jika pada rentang waktu tersebut kondisi&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;sudah dirasa aman atau pihak pelapor menginginkan agar proses perlindungan dihentikan, maka proses perlindungan bisa dihentikan. Namun, jika hingga pada batas waktu tersebut kondisi pelapor masih dalam ancaman dan merasa perlu untuk diberikan perlindungan, maka program perlindungan bisa saja diperpanjang. “Karena proses perlindungan para saksi ini erat kaitannya dengan anggaran yang akan digunakan. Semakin lama perlindungan akan semakin banyak memakan biaya, maka perencanaannya pun harus jelas, tidak bisa dilakukan serta merta karena berkaitan dengan uang negara,” tandas Dawai. &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"  style="margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify; line-height: normal;font-family:georgia;"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt; &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"  style="margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify; line-height: normal;font-family:georgia;"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;b style=""&gt;Rahasia vs Kerjasama&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"  style="margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify; text-indent: 36pt; line-height: normal;font-family:georgia;"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;Sebagai pihak yang berkewajiban memberi perlindungan bagi para saksi (juga korban), kemampuan menjaga rahasia identitas pelapor tentu menjadi syarat mutlak yang harus dimiliki dan dijaga LPSK. Kemandirian organisasi adalah prinsip dasar untuk keberhasilan implementasi program perlindungan saksi. Setiap proses yang melibatkan penerimaan saksi dalam program dan tindakan-tindakan yang dilakukan harus tetap dijaga kerahasiaannya. &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"  style="margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify; text-indent: 36pt; line-height: normal;font-family:georgia;"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;Namun demikian, bukan berarti LPSK tak diperbolehkan menjalin kerjasama dengan pihak-pihak maupun aparat-aparat terkait lainnya. Sebagaimana diceritakan Dawai, saat ini LPSK tengah menjalin kerjasama dengan sejumlah lembaga seperti KPK, Kepolisian RI, serta Komnas HAM. &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"  style="margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify; text-indent: 36pt; line-height: normal;font-family:georgia;"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;span style=""&gt;Baru-baru ini, &lt;/span&gt;&lt;span style=""&gt;Bidang Kerjasama dan Diklat LPSK  menyelenggarakan pertemuan dalam rangka menindaklanjuti kerjasama dengan Kejaksaan Agung RI. Melalui penyusunan Nota Kesepahaman Kerjasama ini, pihak Kejaksaan berharap bahwa &lt;i style=""&gt;output&lt;/i&gt; dari pertemuan tersebut bisa menjadi satu langkah maju guna menembus sumbatan yang ada sehingga dalam pelaksanaan perlindungan saksi dan korban bisa berjalan lebih aktif lagi. Di samping itu, MoU ini diharapkan juga bisa diimplementasikan oleh kejaksaan di tingkat daerah serta menjadi pedoman bagi para jaksa baik yang berada di pusat maupun daerah. &lt;/span&gt;“Kemungkinan terjadinya tumpang tindih atau kebocoran rahasia sangat kita jaga karena pada dasarnya kita sudah memiliki koridor kerja masing-masing,” ujar Dawai.&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"  style="margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify; text-indent: 36pt; line-height: normal;font-family:georgia;"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;Dari sisi internal kelembagaan sendiri, upaya untuk tetap menjaga kerahasiaan identitas pelapor juga berusaha diwujudkan melalui beragam cara. Selain melakukan perekrutan pegawai secara professional, penegakkan disiplin kepegawaian, hingga berbagai pelatihan bagi para pegawai.&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Jika mereka tetap berani membocorkan, akan ada sanksi pidana juga yang menjerat. "Intinya baik internal maupun eksternal, kami melakukan upaya maksimal demi terwujudnya perlindungan saksi dan korban yang maksimal dalam sistem peradilan pidana di Indonesia,” ujar Dawai mantap. &lt;span style=""&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal"  style="margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify; text-indent: 36pt; line-height: normal;font-family:georgia;"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;Jika begini, masih adakah alasan untuk takut melaporkan indikasi terjadinya tindak pidana korupsi di sekitar Anda?? &lt;b style=""&gt;[Dhini Gilang Prasasti u/Intisari]&lt;br /&gt;&lt;/b&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;table align="left" cellpadding="0" cellspacing="0"&gt;  &lt;tbody&gt;&lt;tr&gt;   &lt;td width="1" height="36"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/td&gt;  &lt;/tr&gt;   &lt;/tbody&gt;&lt;/table&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;more..&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1907104877772613638-1237017108474402210?l=dhinigilangprasasti.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://dhinigilangprasasti.blogspot.com/feeds/1237017108474402210/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=1907104877772613638&amp;postID=1237017108474402210&amp;isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1907104877772613638/posts/default/1237017108474402210'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1907104877772613638/posts/default/1237017108474402210'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://dhinigilangprasasti.blogspot.com/2011/03/laporkan-dugaan-tipikor-siapa-takut.html' title='Laporkan Dugaan Tipikor, Siapa Takut?'/><author><name>Dhini Gilang Prasasti</name><uri>http://www.blogger.com/profile/17786272930796266715</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='29' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/-JtjRHzZKFMg/Twnka1jMscI/AAAAAAAAA1E/4efluOKoYKQ/s220/IMG_5114.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1907104877772613638.post-4494008117755331503</id><published>2010-09-06T22:45:00.023+07:00</published><updated>2010-11-12T23:40:44.251+07:00</updated><title type='text'>Entering SWR</title><content type='html'>&lt;div  style="text-align: center; color: rgb(0, 0, 0);font-family:georgia;"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://2.bp.blogspot.com/_s5LWZYlcvTY/TIUgbxgzw2I/AAAAAAAAAV0/07R5cDLaZcA/s1600/images3.jpg"&gt;&lt;img style="display: block; margin: 0px auto 10px; text-align: center; cursor: pointer; width: 279px; height: 180px;" src="http://2.bp.blogspot.com/_s5LWZYlcvTY/TIUgbxgzw2I/AAAAAAAAAV0/07R5cDLaZcA/s320/images3.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5513848980304544610" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic; font-weight: bold;font-family:georgia;font-size:85%;"  &gt;"Hawa dicipta dari tulang rusuk Adam, bukan dari kepalanya untuk dijadikan atasannya, bukan pula dari kakinya untuk dijadikan alasnya, melainkan dari sisinya untuk menjadi temannya. Dekat dengan lengannya untuk dilindungi dan dekat di hatinya untuk dicinta."&lt;br /&gt;-Dale S. Hadley-&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;span style="color: rgb(0, 0, 0);font-family:verdana;font-size:85%;"  &gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div  style="text-align: justify; color: rgb(0, 0, 0);font-family:georgia;"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;Kutipan di atas saya ambil dari akun jejaring pertemanan seorang teman laki-laki saya. Tampaknya, -jika saya tak salah kira- ia sedang jatuh cinta setengah mati pada seorang hawa, yang kebetulan juga teman saya. :p&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jujur, saya senang melihat dinamika yang ia sedang coba tapaki. Setidaknya, teman saya ini secara sadar mengerti bahwa sudah bukan pada tempat dan waktunya lagi perempuan hanya ditempatkan sebagai 'pihak sekunder' dalam banyak episode kehidupan, terutama kehidupan berumah tangga.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hmm, bicara soal perempuan dan hak-haknya memang selalu jadi hal yang menarik. Diakui atau tidak, banyak fakta menunjukkan masih adanya upaya-upaya peminggiran terhadap apa yang semestinya menjadi hak-hak perempuan. Pun di era yang katanya modern dan maju seperti sekarang, kenyataan pahit ini seolah masih menjadi riak yang menempel pada sendi-sendi kehidupan bermasyarakat di Indonesia. Mereka yang memperjuangkan perkara ini  berdiri di atas prinsip kesetaraan gender antara laki-laki dan perempuan serta hak asasi manusia (HAM), sementara, mereka yang -cenderung- mengesampingkannya, kebanyakan berdiri di atas warisan-warisan budaya ketimuran yang dianggap sebagai akar budaya bangsa, mulai dari adat istiadat hingga upaya penegakkan syariat agama.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kemajemukan pemikiran yang terlanjur bercampur baur dengan warisan-warisan budaya inilah yang membuat perkara penguatan hak perempuan dan perjuangan kesetaraan gender menjadi sesuatu yang &lt;span style="font-style: italic;"&gt;nggak&lt;/span&gt; mudah di Indonesia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Buktinya, Anda jangan heran jika menemukan produk  hukum yang berkaitan dengan kepentingan perempuan masih sering memuat pasal-pasal yang ambigu dan rentan bias. Banyak hal yang dibahas di Undang-undang atau sejumlah produk hukum lainnya yang sifatnya 'nanggung', sehingga penginterpretasiannya begitu mudah dipelintir oleh pihak-pihak yang punya kepentingan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada titik ini, peran media massa menjadi salah satu faktor penting dalam proses konstruksi sosial masyarakat. Pertanyaannya, sejauh mana media massa di Indonesia memainkan peran tersebut? Sejauh mana media berani mengambil tempat dalam kesenjangan pemikiran antara pihak yang mendukung dan tidak mendukung adanya penguatan hak-hak perempuan di Indonesia? Apakah semua media massa murni mendukung penguatan hak-hak perempuan, atau mendukung dengan memberikan persyaratan tertentu, atau bahkan sama sekali tak mendukung?  Bagaimana media massa-media massa yang menganut ideologi-ideologi tertentu (baca:agama) menerapkan prinsip kesetaraan gender dan  dalam pemberitaan mereka? Lantas, apakah media massa-media massa di daerah yang jauh dari ibukota juga memiliki kesadaran untuk mengangkat isu kesetaraan hak-hak perempuan dan laki-laki? Jika ya, isu apa yang paling banyak diangkat dan mana yang tidak? Bagaimana perspektif jurnalis dan kebiasaan-kebiasaan yang berlaku di sebuah kantor redaksi media massa pada akhirnya terintegrasi dalam teks-teks berita yang diproduksi oleh media yang bersangkutan?.....&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jawabannya tunggu posting soal hasil riset SWR ini ya.. :)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;more..&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1907104877772613638-4494008117755331503?l=dhinigilangprasasti.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://dhinigilangprasasti.blogspot.com/feeds/4494008117755331503/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=1907104877772613638&amp;postID=4494008117755331503&amp;isPopup=true' title='4 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1907104877772613638/posts/default/4494008117755331503'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1907104877772613638/posts/default/4494008117755331503'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://dhinigilangprasasti.blogspot.com/2010/09/hawa-dicipta-dari-tulang-rusuk-adam.html' title='Entering SWR'/><author><name>Dhini Gilang Prasasti</name><uri>http://www.blogger.com/profile/17786272930796266715</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='29' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/-JtjRHzZKFMg/Twnka1jMscI/AAAAAAAAA1E/4efluOKoYKQ/s220/IMG_5114.JPG'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://2.bp.blogspot.com/_s5LWZYlcvTY/TIUgbxgzw2I/AAAAAAAAAV0/07R5cDLaZcA/s72-c/images3.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>4</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1907104877772613638.post-5058458301391742262</id><published>2010-08-28T00:24:00.005+07:00</published><updated>2010-09-08T23:35:01.077+07:00</updated><title type='text'>Sensasi Brazilian Wax..</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;span style="font-weight: bold;font-family:georgia;" &gt;Perawatan brazilian wax mulai mendapat tempat di hati masyarakat. Tak percaya? Menjamurnya butik atau salon yang khusus menyediakan layanan ini salah satu buktinya. Honeypot, butik waxing di bilangan Patal Senayan bahkan mengemukakan fakta mengejutkan: jumlah pelanggan yang datang per harinya tak lagi dalam hitungan jari!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt; &lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;span style="font-family:georgia;"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;span style="font-family:georgia;"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;span style="font-family:georgia;"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;span style="font-family:georgia;"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;span style="font-family:georgia;"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;span style="font-family:georgia;"&gt;&lt;a onblur="try  {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://2.bp.blogspot.com/_s5LWZYlcvTY/TIe6GEzUjbI/AAAAAAAAAW0/-qwuJJfUyXE/s1600/wax-1.jpg"&gt;&lt;img style="display: block; margin: 0px auto 10px; text-align: center; cursor: pointer; width: 320px; height: 213px;" src="http://2.bp.blogspot.com/_s5LWZYlcvTY/TIe6GEzUjbI/AAAAAAAAAW0/-qwuJJfUyXE/s320/wax-1.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5514580882269441458" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt; &lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;span style="font-family:georgia;"&gt;Jika Anda termasuk wanita yang peduli pada kebersihan dan kenyamanan organ intim, maka Anda patut menjajal waxing yang satu ini. Meski relatif anyar, brazilian wax bisa dibilang spesial jika dibandingkan dengan jenis waxing lain yang lebih dikenal sebelumnya. Bukan hanya karena nama dan bagian tubuh yang diwaxing, tapi juga sensasinya! Konon, melakukan brazilian wax bisa menambah kenikmatan saat berhubungan seks dengan pasangan.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;span style="font-family:georgia;"&gt;Adalah tujuh bersaudari asal Brazil yang pada 1987 pertama kali mempopulerkan brazilian wax di Amerika Serikat. Waxing ini merupakan proses menghilangkan rambut-rambut yang ada di area organ intim kewanitaan hingga bokong, berbeda dengan bikini wax yang hanya mencakup area bikini line (pangkal paha dan perut bawah).&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;  &lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;span style="font-family:georgia;"&gt;Lantas, apa yang membuat brazilian wax kini mulai dilirik bahkan digandrungi? Serial Sex and the City mungkin bisa jadi jawabannya. Ya, disadari atau tidak, keempat tokoh utama wanita dalam serial tersebut kerap menyebut bikini atau brazilian wax sebagai salah satu kiat untuk tampil seksi. Faktor pendorong lainnya? Bisa jadi lewat sharing dari mulut ke mulut antar rekan sekantor atau sanak kerabat soal pengalaman ‘sensual’ yang mereka rasakan setelah melakukan brazilian wax.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;  &lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;span style="font-family:georgia;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Faktanya, brazilian wax memang membuat banyak kaum hawa penasaran. Meski, tak sedikit pula yang pada akhirnya lebih memilih untuk mengurungkan niatnya melakukan brazillian wax. Sebabnya? “Ngeri ngebayangin sakitnya,” begitu kira-kira alasan yang seringkali terlontar dari mulut mereka. Padahal, sebagaimana dipaparkan Leonard Serrani—seorang praktisi dan pakar waxing kelahiran New Jersey - Amerika Serikat, rasa sakit saat melakukan brazillian wax bisa diminimalisir jika Anda tahu benar bagaimana memilih tempat yang nyaman dan aman untuk melakukan waxing tersebut. Minimal, krim dan teknik yang digunakan oleh para waxer (orang yang melakukan wax-red).&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;   &lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;span style="font-family:georgia;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold; font-style: italic;"&gt;Waxing Nyaman di Honeypot&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt; &lt;br /&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;span style="font-family:georgia;"&gt;Bagi Anda yang pernah beberapa kali plesir ke Singapura, mungkin sudah tak asing lagi dengan Honeypot, butik waxing yang cukup ternama di sana. Nah, buat Anda belum pernah tahu dan justru jadi penasaran karena membaca artikel ini, kini tak perlu jauh-jauh ke Singapura karena butik ini bisa Anda jumpai di Jakarta.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;  &lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;span style="font-family:georgia;"&gt;Diceritakan sang pemilik, Ernawati Salim, ketertarikannya berbisnis di bidang ini berawal ketika dirinya menjajal perawatan brazilian wax di butik Honeypot Singapura. “Honeypot beda dengan butik atau salon wax lain yang pernah saya coba, terutama krim dan teknik pengerjaannya, makanya saya tertarik untuk membuka franchise-nya di Jakarta,” papar Erna, sapaan akrabnya.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;  &lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;span style="font-family:georgia;"&gt;Butik waxing ini pertama kali berdiri di Singapura pada 2005. Sementara di Indonesia, baru berdiri pada 2007. Menurut Erna, nama Honeypot diambil dari istilah ‘honey’ dan ‘pot’. “’Honey’ maksudnya cairan atau krim aplikator yang bentuknya kental seperti madu, sementara ‘pot’ merupakan wadah tempat diletakkannya krim tersebut,” lanjut Erna, melengkapi.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;  &lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;span style="font-family:georgia;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Meski baru berjalan tiga tahun, butik yang berlokasi di Rukan Permata Senayan ini tak bisa dipandang sebelah mata. Terbukti, dalam waktu dekat Honeypot akan membuka dua cabang tambahan, satu di sebuah pusat perbelanjaan di Jakarta, lainnya di Semarang, Jawa Tengah. Kredibilitas butik satu ini juga dibuktikan lewat segudang penghargaan bergengsi yang pernah diraih dari sejumlah media ternama. Sebut saja Best Place for Brazilian Waxing (Cleo Magazine 2006), Least Painful Brazilian Wax (Urban full page review), Brazilian Wax Salon Winner (Simply Her Smart shopper award 2007), Editor's Rave Score 9/10 (Simply her June 2007), Best Bet for Brazilian Wax (Timeout Magazine 2007), Cozycot Best Brazilian Wax 2008, dan yang terakhir, Best of Tatler 2010 waxing parlour.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;  &lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;span style="font-family:georgia;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebagai salah satu butik yang memfokuskan diri pada pelayanan wax, Honeypot hadir menyediakan layanan waxing lengkap yang mencakup facial wax, body wax, dan brazilian wax. Dari ketiga kelompok tersebut, sebagaimana dipaparkan Erna, layanan brazilian wax adalah layanan yang paling banyak diminati para pelanggan. “Dalam satu hari, pelanggan yang datang bisa mencapai 10 hingga 12 orang. Biasanya mereka buat janji dulu kapan atau jam berapa mau datang, tapi paling sering di jam makan siang,” tukas Erna.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;  &lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;span style="font-family:georgia;"&gt;Khusus untuk brazilian wax, ada beberapa model yang coba ditawarkan dengan pilihan-pilihan nama yang terbilang ‘nakal’, seperti Basic Bikini, The In Between, Butterfly, Hollywood, Playboy, dan L’amour. Harga tiap model tak sama, tergantung pada tingkat kesulitan dalam pengerjaannya yang juga berbeda-beda. Model L’amour (bentuk hati-red) misalnya, dihargai 325 ribu rupiah sekali perawatan, paling mahal diantara kelima model yang lain karena tingkat kesulitannya juga tinggi. Sementara itu, model Hollywood (pangkas habis-red), dihargai 280 ribu rupiah. Sekadar informasi tambahan, yang terakhir ini adalah model yang paling banyak diminati kebanyakan pelanggan. Wow…!&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;  &lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;span style="font-family:georgia;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selain model, para pelanggan yang datang juga bisa memilih waxer yang diinginkan untuk melakukan perawatan. Menurut Erna, rata-rata pelanggan sudah punya waxer andalan mereka masing-masing. “Lagipula, brazilian wax kan menyangkut area organ intim, kalau gonta-ganti waxer mungkin jadi nggak nyaman ya,” imbuhnya.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;  &lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;span style="font-family:georgia;"&gt;Meski waxing juga populer di kalangan pria, Honeypot lebih memilih untuk fokus pada layanan jasa waxing khusus wanita. Oleh karena itu, tak heran jika semua pelanggannya adalah wanita. Kalaupun ada laki-laki yang datang, hanya sebatas mengantarkan, itupun ia hanya bisa menunggu di ruang tunggu atau di luar butik. “Pelanggan kami adalah wanita-wanita usia produktif, 15 hingga 60 tahun yang rata-rata bekerja dan ibu rumah tangga. Beberapa ada juga yang masih sekolah atau kuliah. Khusus untuk brazilian wax, kebanyakan pelanggannya adalah mereka-mereka yang sudah atau baru akan menikah,” papar Erna.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;  &lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;span style="font-family:georgia;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari segi tampilan fisik, desain interior Honeypot tak kalah menarik. Selain cat tembok, hampir seluruh ornamen didominasi warna shocking pink dengansedikit sentuhan hitam. “Agar menambah kesan sexy,” kata Erna. Di bagian dalam, ada tiga ruangan yang siap digunakan, masing-masing berukuran sekitar 3 x 4 meter persegi. Tak terlalu besar memang, tapi privasi Anda dijamin di sini. Ruangan yang digunakan untuk perawatan didesain selaiknya kamar pribadi, lengkap dengan sebuah kaca berukuran besar di sisi kirinya. Ditambahkan Erna, untuk menjaga kenyamanan dan keamanan pelanggan, saat perawatan biasanya waxer mengunci pintu agar orang tak bisa sembarangan masuk.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;  &lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;span style="font-family:georgia;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jika Anda datang ke butik Honeypot di Senayan, Anda akan disambut hangat oleh tiga orang kitty’s (sebutan para waxer di Honeypot-red), yang siap membantu. Meski tak punya basic pendidikan salon atau waxing, para kitty’s ini dijamin terampil dan cekatan dalam melakukan waxing, terutama brazilian wax. Menurut Erna, sebelum resmi diterima sebagai kitty’s, mereka terlebih dulu mendapatkan pelatihan langsung dari pihak Honeypot Singapura. “Mereka juga akan menjalani tes sebagai tahap penilaian sebelum dinyatakan lulus sebagai kitty’s,” tandasnya.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold; font-style: italic;font-size:85%;" &gt;&lt;span style="font-family:georgia;"&gt;Essential Oil, Minimalisir Rasa Sakit&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-weight: bold; font-style: italic;"&gt;  &lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;span style="font-family:georgia;"&gt;&lt;br /&gt;Mulai tertarik tapi masih ngilu membayangkan sakitnya? Mulai sekarang, perasaan ini bisa Anda buang jauh-jauh. Di Honeypot, selain waxer yang sudah terlatih, krim aplikator yang digunakan juga didesain sedemikian rupa untuk meminimalisir rasa sakit. Krim tersebut memang hanya diproduksi dan digunakan sendiri oleh Honeypot (house wax). Nilai plus-nya, kualitas produk bisa dikontrol, mulai dari bahan, formulasi campuran, hingga cara menggunakan yang paling baik dan benar.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;span style="font-family:georgia;"&gt;Ada dua jenis krim aplikator yang digunakan di Honeypot, hot wax dan strip wax. Hot wax biasanya digunakan untuk waxing pada area-area sensitif, seperti wajah, ketiak (under arm), serta brazilian wax. Sementara strip wax biasanya digunakan untuk waxing yang dilakukan pada kaki, tangan, dan seluruh tubuh (body wax).&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;  &lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;span style="font-family:georgia;"&gt;Perbedaan lainnya terletak pada kandungan bahan dasar yang terdapat dalam masing-masing jenis krim aplikator. Strip wax hanya terbuat dari bahan dasar strawberry, berbeda dengan hot wax yang bahan dasarnya jauh lebih kompleks karena terdiri dari campuran essential oil rose, jasmine, dan apricot.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Campuran ketiga bahan dasar essential oil inilah yang menjadikan hot wax jauh lebih baik ketimbang strip wax atau krim wax lainnya yang hanya berbahan dasar lilin atau sugar. “Kandungan essential oil membuat krim wax yang kita hasilkan jauh lebih lembut, jadi bisa mengurangi rasa sakit,” lanjut Erna.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;  &lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;span style="font-family:georgia;"&gt;Hot wax berbentuk krim kental yang secara otomatis akan mengeras jika sedang tidak digunakan. Oleh karena itu ‘pot’ atau wadah yang digunakan merupakan wadah elektrik dan wajib dilengkapi dengan sebuah pengatur suhu. Saat seorang pelanggan datang dan siap dengan model yang dipilihnya, barulah krim tersebut dipanaskan.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;span style="font-family:georgia;"&gt;Sebelum memulai perawatan, pelanggan akan dipersilakan mengganti pakaian mereka dengan pakaian khusus yang telah disediakan pihak Honeypot. Sebagai langkah awal, area yang akan diwax dibersihkan terlebih dulu menggunakan cairan cleanser antiseptic. Langkah ini bertujuan membersihkan sekaligus menjaga agar area yang akan di wax berada dalam keadaan steril. Selanjutnya, area tersebut diolesi dengan cairan pain free potion yang banyak mengandung minyak (oil). Selain membuka pori-pori, cairan oily ini juga berfungsi sebagai pelapis antara kulit dan aplikator, sehingga nantinya krim wax akan menempel pada bulu, bukan pada kulit. Langkah ini memiliki pengaruh besar untuk mengurangi rasa sakit saat waxing. Setelah itu, krim aplikator dioleskan ke area yang bersangkutan menggunakan spatula (sejenis stik es krim). Pengolesan krim wax disesuaikan dengan model yang dipilih. Diamkan hingga setengah mengering, lalu dicabut berlawanan dengan arah tumbuhnya bulu. “Pencabutan harus dilakukan secara cepat, kalau pelan-pelan justru makin menambah rasa sakit,” ujar Dita, salah satu kitty’s.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;  &lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;span style="font-family:georgia;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Untuk menjaga agar proses waxing khususnya brazilian wax berjalan steril, setiap peralatan di Honeypot hanya digunakan dengan prinsip sekali pakai. Mulai dari masker dan sarung tangan (gloves) yang digunakan para kitty’s, spatula, hingga kertas strip (khusus body wax).&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;  &lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;span style="font-family:georgia;"&gt;Jika proses pencabutan telah usai, area yang di wax dibersihkan kembali dan diberi cairan hydrate yang berfungsi menutup pori-pori kulit. Tidak diperlukan waktu lama untuk sekali melakukan brazilian wax. “Tergantung modelnya, tapi rata-rata dari proses awal hingga akhir paling lama hanya menghabiskan waktu 20-25 menit,” tukas Dita.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;  &lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;span style="font-family:georgia;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mereka yang baru saja menjalani brazilian disarankan untuk menghindari beberapa hal selama 24 jam, seperti berenang, lulur, mandi atau berendam dengan air panas, berjemur langsung di bawah terik matahari, menjalani perawatan ultraviolet, menggunakan pakaian ketat, dan menggosok area perawatan. “Yang terpenting, jangan menggunakan produk atau obat-obatan lain dulu, karena pori-pori kulit setelah diwax kan masih lebar, takutnya kuman masuk justru jadi infeksi,” jelas Dita.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;  &lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;span style="font-family:georgia;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selain pantangan-pantangan di atas, pihak Honeypot juga menyediakan rangkaian produk after wax yang dapat digunakan seseorang yang menjalani perawatan. Sama seperti krim wax, produk-produk after wax ini juga merupakan produk house wax, yang dibuat dan hanya dipergunakan secara internal. Produk after wax ini terdiri dari lima satuan produk, yakni no more bumps yang berfungsi mengatasi kulit sensitif (merah-merah) setelah di wax, smooth operator, scrub yang berfungsi mengangkat sel-sel kulit mati, fairest off them all yang berfungsi sebagai whitening serum untuk memudarkan noda-noda gelap, goodbye forever spray yang berfungsi meminimalisir rasa gatal sekaligus mencegah tumbuhnya in-grown hair, dan terakhir strawberry champagne yang berfungsi melembutkan kulit sekaligus menghaluskan bulu.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold; font-style: italic;font-size:85%;" &gt;&lt;span style="font-family:georgia;"&gt;‘Cookie’ Bersih, Seks Lebih Bergairah&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;  &lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;span style="font-family:georgia;"&gt;&lt;br /&gt;Wanita mana yang tak senang jika organ intimnya bersih dan kesat? Hal inilah yang menjadi alasan penting perlunya seorang wanita melakukan brazilian wax. Dijelaskan Erna, area kewanitaan memang merupakan area yang mudah lembab, terutama pada saat haid. Tak heran jika pada masa-masa tersebut, seorang wanita seringkali merasa tidak nyaman secara fisik, seperti rasa nyeri atau gatal pada organ intimnya. Tentu saja Anda tidak disarankan melakukan brazilian wax saat itu, melainkan sepuluh hari sebelum atau sepuluh hari sesudah haid. “Pada saat haid, selain kotor, kulit di sekitar vagina juga jauh lebih sensitif, pasti akan lebih sakit jika dilakukan perawatan,” jelas Erna.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;  &lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;span style="font-family:georgia;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tak cuma perkara kebersihan. Dengan melakukan brazilian wax, konon juga dapat meningkatkan gairah hubungan seks bersama pasangan. Seorang wanita, terutama yang telah memiliki suami bisa terlihat lebih seksi dan menarik.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;  &lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;span style="font-family:georgia;"&gt;Saya jadi ingat cerita Miss Jinjing Amelia Masniari di buku pertamanya yang berjudul Belanja Sampai Mati. Pada bab ‘Things to Do to Satisfied Your Husband’, ia mencantumkan brazilian wax sebagai salah satu cara yang bisa dilakukan. Disini, Amelia menceritakan kisah seorang sahabatnya yang diminta melakukan brazilian wax oleh sang suami. Meski takut, toh sahabatnya ini akhirnya memberanikan diri. Hasilnya, hubungan seks mereka jauh lebih bergairah.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;  &lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;span style="font-family:georgia;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hal ini diamini seorang pelanggan di Honeypot yang menolak disebutkan identitasnya. Awalnya, wanita yang bekerja di bidang bisnis properti ini hanya mengenal brazilian wax dari cerita rekan kerja di kantor. Lama kelamaan, sang suami memintanya menjajal perawatan ‘ekstrim’ ini. Ia bahkan bersedia mengantarkan sendiri sang istri melakukan perawatan. “Sempat takut juga, tapi karena permintaan suami, akhirnya saya memberanikan diri, dan hasilnya cukup memuaskan,” ujarnya sambil tersenyum.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt; &lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;span style="font-family:georgia;"&gt;Ia menambahkan, sudah satu tahun ini ia menjadi pelanggan tetap di Honeypot. Minimal, ia datang sebulan sekali untuk melakukan perawatan. “Waktunya biasanya dua minggu setelah haid, supaya bersih dan steril lagi,” imbuhnya. Tentu saja hal ini tak berlaku selamanya. Bulu-bulu tersebut akan kembali tumbuh, “tapi minimal selang waktunya jadi lebih lama, dan kalaupun tumbuh kembali, menjadi lebih halus dan rapi,” katanya lagi.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;  &lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;span style="font-family:georgia;"&gt;Agar lebih hemat, ia mengambil perawatan dengan sistem paket. Harganya cukup murah, dua juta rupiah untuk pelayanan senilai dua juta tiga ratus ribu rupiah. Prinsip paket ini kurang lebih seperti mesin ATM, menyetor uang diawal yang kemudian akan berkurang secara otomatis tiap kali Anda melakukan perawatan.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt; &lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;span style="font-family:georgia;"&gt;Hmm…cukup menarik bukan? Jadi bagaimana, berani menggusur rasa takut dan menjajal brazilian wax sekarang??&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;[Dhini Gilang Prasasti u/Intisari]&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt; &lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;more..&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1907104877772613638-5058458301391742262?l=dhinigilangprasasti.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://dhinigilangprasasti.blogspot.com/feeds/5058458301391742262/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=1907104877772613638&amp;postID=5058458301391742262&amp;isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1907104877772613638/posts/default/5058458301391742262'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1907104877772613638/posts/default/5058458301391742262'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://dhinigilangprasasti.blogspot.com/2010/08/sensasi-brazilian-wax.html' title='Sensasi Brazilian Wax..'/><author><name>Dhini Gilang Prasasti</name><uri>http://www.blogger.com/profile/17786272930796266715</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='29' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/-JtjRHzZKFMg/Twnka1jMscI/AAAAAAAAA1E/4efluOKoYKQ/s220/IMG_5114.JPG'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://2.bp.blogspot.com/_s5LWZYlcvTY/TIe6GEzUjbI/AAAAAAAAAW0/-qwuJJfUyXE/s72-c/wax-1.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1907104877772613638.post-9016019488271154863</id><published>2009-10-13T23:58:00.007+07:00</published><updated>2010-09-14T15:18:10.609+07:00</updated><title type='text'>Menjadi Perempuan Hebat</title><content type='html'>&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;a style="font-family: georgia;" onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://3.bp.blogspot.com/_s5LWZYlcvTY/StS-TjAylTI/AAAAAAAAAPk/plIPUZpiSgA/s1600-h/wanita_indonesia_lukisan_soekarno_wikipedia.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 10px 10px 0pt; float: left; cursor: pointer; width: 249px; height: 320px;" src="http://3.bp.blogspot.com/_s5LWZYlcvTY/StS-TjAylTI/AAAAAAAAAPk/plIPUZpiSgA/s320/wanita_indonesia_lukisan_soekarno_wikipedia.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5392143896894674226" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style="font-family:georgia;"&gt;Menjalani peran sebagai perempuan itu susah-susah gampang, begitu tadinya pola pikir yang ada di pikiran saya. Sampai akhirnya, kenyataan-kenyataan yang saya jumpai dalam keseharian saya selama tiga bulan terakhir berhasil menggeser paradigma itu: menjalani peran sebagai perempuan itu susah.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:georgia;"&gt;Saya sangat sadar bahwa saya tidak bisa menggeneralisasi kenyataan-kenyataan yang saya hadapi sebagai realita hidup semua perempuan di negeri ini. Tapi, saya sangat yakin jika apa yang saya saksikan dan saya dengar dengan mata dan telinga saya sendiri itu, bisa mendeskripsikan sebagian dari keseharian mereka.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:georgia;"&gt;Namun, sebelum saya berbagi ceritanya bersama Anda, saya hanya ingin memastikan, bahwa apa yang saya klaim sebagai 'susah' itu bukanlah susah dalam kaitannya dengan makna harfiah atau kodrati bahwa perempuan adalah makhluk ciptaan Tuhan yang berbeda dengan laki-laki, tetapi lebih kepada peran sosial, khususnya peran dalam kehidupan yang paling mendasar - keluarga.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-weight: bold;font-family:georgia;font-size:85%;"  &gt;Perempuan 1.&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:georgia;"&gt;Seorang manager komunikasi. Usianya sekitar 37an. Sudah menikah lebih dari tujuh tahun tetapi belum juga dikaruniai anak. Saat ini, dia sedang menjalani serangkaian terapi untuk bisa segera mendapatkan anak. Pergi ke dokter setiap hari, cek sana sini, ambil darah, pantang makan ini itu, bahkan baru-baru ini sampai operasi segala. Suatu kali, saya iseng bertanya hingga terjadi percakapan kurang lebih sebagai berikut:&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:georgia;"&gt;dhini : "apa suami Mbak juga menjalani terapi?"&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:georgia;"&gt;perempuan 1:  "Nggak. Dimana-mana, yang harus berkorban itu tetap saja perempuan"&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:georgia;"&gt;dhini : ??&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-weight: bold;font-family:georgia;font-size:85%;"  &gt;Perempuan 2&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:georgia;"&gt;Seorang sekretaris senior. Punya dua orang anak. Tidak punya pembantu yang tinggal secara menetap. Meski yang bersangkutan ini orangnya sedikit kurang ramah, kami sempat beberapa kali melakukan perbincangan iseng-iseng yang akhirnya nyambung juga ke topik aktivitasnya di rumah. Singkat kata, setelah pulang kantor rutinitasnya kira-kira seperti ini:&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:georgia;"&gt;19.00: tiba di rumah&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:georgia;"&gt;19.00 - 20.00: bebenah rumah (kadang disertai jengkel setengah mati melihat tumpukan baju yang belum disetrika)&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:georgia;"&gt;20.00-21.00: menemani anak bungsu (kelas 6 SD) belajar, kadang juga memberikan pertanyaan-pertanyaan untuk menguji sang anak.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:georgia;"&gt;21.00-22.00: bercanda-canda sama anak dan suami&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:georgia;"&gt;22.00-23.00: bercanda-canda sama suami saja&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:georgia;"&gt;23.00-24.00: tidur malam&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:georgia;"&gt;04.00: bangun, menyiapkan keperluan anak sekolah, memasak makanan hari ini plus bekal yang akan dibawa anak sekolah dan dia bawa sendiri ke kantor&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:georgia;"&gt;05.30: berangkat ke kantor&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:georgia;"&gt;07.30-17.30: kerja di kantor&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:georgia;"&gt;17.30: pulan&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:georgia;"&gt;Di kantor, ia masih menelepon sang anak hanya untuk menanyakan apakah si anak sudah mandi, tadi makan pakai apa, di sekolah bagaimana, dan sebagainya...&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-weight: bold;font-family:georgia;font-size:85%;"  &gt;Perempuan 3&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:georgia;"&gt;Perempuan ini perempuan yang seringkali berangkat dengan angkot yang sama dengan saya. Di jalan, ia selalu mengambil handphone untuk mengecek sang anak: makannya, peernya, teman-temannya, guru lesnya, baju-bajunya, uang jajannya, jadwal mandinya, mainan-mainannya, dan sebagainya.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-weight: bold;font-family:georgia;font-size:85%;"  &gt;Perempuan 4&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;span style="font-family:georgia;"&gt;Kalau perempuan 3 bertemu saya setiap saya berangkat kerja, yang satu ini bertemu saya ketika saya pulang. Kebiasannya hampir sama dengan perempuan 3, tapi lebih lagi, karena suatu kali saya pernah mendengar dia bicara begini: "besok ulangannya apa? oh, IPA sama Bahasa? Yang kira-kira susah yang mana? Yasudah , IPA-nya saja dulu dipelajari, Bahasanya nanti tunggu mama, bla blaa..."&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-weight: bold;font-family:georgia;font-size:85%;"  &gt;Perempuan 5&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:georgia;"&gt;Ibu saya. Untuk semua teladan baik yang diberikan pada kami anak-anaknya. Untuk bekerja siang malam membantu ayah meraih pencapaian hidup yang lebih baik. Untuk setia menunggu kami di rumah, seberapa lama dan seberapa asyik pun kami pergi..&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;more..&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1907104877772613638-9016019488271154863?l=dhinigilangprasasti.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://dhinigilangprasasti.blogspot.com/feeds/9016019488271154863/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=1907104877772613638&amp;postID=9016019488271154863&amp;isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1907104877772613638/posts/default/9016019488271154863'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1907104877772613638/posts/default/9016019488271154863'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://dhinigilangprasasti.blogspot.com/2009/10/perempuan-cerita-perempuan.html' title='Menjadi Perempuan Hebat'/><author><name>Dhini Gilang Prasasti</name><uri>http://www.blogger.com/profile/17786272930796266715</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='29' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/-JtjRHzZKFMg/Twnka1jMscI/AAAAAAAAA1E/4efluOKoYKQ/s220/IMG_5114.JPG'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://3.bp.blogspot.com/_s5LWZYlcvTY/StS-TjAylTI/AAAAAAAAAPk/plIPUZpiSgA/s72-c/wanita_indonesia_lukisan_soekarno_wikipedia.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1907104877772613638.post-2514862842237628628</id><published>2009-10-06T21:32:00.008+07:00</published><updated>2010-09-14T15:25:00.915+07:00</updated><title type='text'>Gempa Sumbar dan deJavu Saya</title><content type='html'>&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;a style="font-family: georgia;" onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://2.bp.blogspot.com/_s5LWZYlcvTY/SstdeUlvckI/AAAAAAAAAPU/HJnaAU2AvjI/s1600-h/77268_gempa_di_kota_padang.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 0pt 10px 10px; float: right; cursor: pointer; width: 200px; height: 150px;" src="http://2.bp.blogspot.com/_s5LWZYlcvTY/SstdeUlvckI/AAAAAAAAAPU/HJnaAU2AvjI/s200/77268_gempa_di_kota_padang.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5389504154583396930" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style="font-family:georgia;"&gt;Jumat petang itu, saya seharusnya sudah tiba di kantor Intisari. Letaknya di bilangan Kebon Jeruk. Sebenarnya tidak seberapa jauh dari kantor saya di bilangan Sudirman. Tapi, melihat kendaraan yang padat merayap sore itu mengurungkan niat saya untuk segera beranjak.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:georgia;"&gt;Setengah jam kemudian, saya akhirnya turun juga. Lumayan, setidaknya saya tidak perlu berlama-lama menunggu lift laiknya jika saya turun tenggo. Sampai di bawah, saya masih malas juga untuk pergi. Akhirnya saya makan sate padang di sebelah kantor dulu bersama seorang teman. Dasar bawaan, sambil menunggu si bapak memanggang satenya, saya iseng bertanya: "keluarga bapak gimana di Padang Pak?", dia menjawab lirih: "Keluarga selamat, tapi rumah hancur," katanya.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:georgia;"&gt;Mendadak saya teringat security di kantor. Namanya Pak Ridwan. Orangnya baik betul. Awalnya saya pikir dia galak, tapi belakangan dia menjadi salah satu teman ngobrol saya juga di kantor. :)&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:georgia;"&gt;Selama hampir tiga bulan saya bekerja di sana, baru sehari pascagempa di Padang Rabu 30 September itu, saya tahu kalau ia orang Padang. Nasib keluarga Pak Ridwan tak lebih baik dari si Bapak penjual sate. Ibunya selamat, tapi rumahnya rata dengan tanah.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:georgia;"&gt;Saya cuma bisa miris. Apalagi ketika media semakin membombardir dengan berita-berita soal perkembangan pascagempa, terutama soal banyaknya korban yang terjebak di reruntuhan bangunan.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:georgia;"&gt;Sesekali dada saya sesak juga rasanya. Bukan apa-apa. Saya jadi ingat gempa Tasikmalaya 2 September lalu yang efeknya juga terasa sampai di kantor. Saya sudah setengah pasrah ketika sampai di depan pintu tangga darurat sembari melihat tulisan angka 15 di salah satu dindingnya, ketika saya hanya mendengar semua orang menyebut nama Tuhan berulang-ulang dan membaca semua doa yang mereka tahu, ketika seketika otak saya tidak bisa berpikir apa-apa kecuali berharap Tuhan menolong saya hari itu....&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:georgia;"&gt;Lalu, ketika seminggu lalu gempa membuat hampir 80% bangunan di Padang dan sekitarnya ambruk, saya pun seperti bisa membayangkan suasana yang mereka hadapi. Suasana di mana semua orang panik dan memperjuangkan keselamatan mereka masing-masing. Suasana di mana pangkat dan jabatan serasa tidak ada artinya lagi. Suasana di mana manusia hanya punya Tuhan sebagai satu-satunya tempat bergantung.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:georgia;"&gt;Cukup. Jangan lagi Tuhan. Ampuni kami dan buat agar kami menjadikan ini pelajaran.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;more..&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1907104877772613638-2514862842237628628?l=dhinigilangprasasti.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://dhinigilangprasasti.blogspot.com/feeds/2514862842237628628/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=1907104877772613638&amp;postID=2514862842237628628&amp;isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1907104877772613638/posts/default/2514862842237628628'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1907104877772613638/posts/default/2514862842237628628'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://dhinigilangprasasti.blogspot.com/2009/10/gempa-sumbar-dan-dejavu-saya.html' title='Gempa Sumbar dan deJavu Saya'/><author><name>Dhini Gilang Prasasti</name><uri>http://www.blogger.com/profile/17786272930796266715</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='29' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/-JtjRHzZKFMg/Twnka1jMscI/AAAAAAAAA1E/4efluOKoYKQ/s220/IMG_5114.JPG'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://2.bp.blogspot.com/_s5LWZYlcvTY/SstdeUlvckI/AAAAAAAAAPU/HJnaAU2AvjI/s72-c/77268_gempa_di_kota_padang.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1907104877772613638.post-1574507376649089419</id><published>2009-07-04T01:20:00.003+07:00</published><updated>2009-07-04T03:56:24.555+07:00</updated><title type='text'>RItual Gunung Kemukus (Bagian 2)</title><content type='html'>&lt;span style="font-family:arial;"&gt;"....Saya ini Islam lo Bu. Tetapi saya kenal Romo. Ya saya juga Romo, tapi kan Romo Jowo. Ini Romo Imam Katolik. DIa mengatakan bahwa ada surat rahasia yang disebutnya Surat ke-3 Fatima. Romo itu tidak tahu detilnya, tetapi katanya, menurut surat itu, iblis juga ada di Vatikan, bahkan juga ada pada diri Paus. Menurut Romo itu, Surat ke-3 Fatima memang kurangajar, tetapi sekaligus benar. Surat itu tidak pernah disiarkan meski Paus-nya sudah ganti-ganti. Ya itu, kata Romo yang radikal itu lo, bukan kata saya. Menurut dia, Gereja itu juga sangat munafik. Seperti Pemda itu, seperti saudara saya sesama pemeluk Islam, yang suka merazia tempat-tempat mesum. Dari dulu, PSK yang baik pasti ada, maling yang soleh juga ada, tetapi kaum agamawan yang brengsek pun banyak..."&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:arial;"&gt;dikutip dari novel fiksi "Ritual Gunung Kemukus", karya F. Rahardi. &lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;more..&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1907104877772613638-1574507376649089419?l=dhinigilangprasasti.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://dhinigilangprasasti.blogspot.com/feeds/1574507376649089419/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=1907104877772613638&amp;postID=1574507376649089419&amp;isPopup=true' title='1 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1907104877772613638/posts/default/1574507376649089419'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1907104877772613638/posts/default/1574507376649089419'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://dhinigilangprasasti.blogspot.com/2009/07/ritual-gunung-kemukus-bagian-2.html' title='RItual Gunung Kemukus (Bagian 2)'/><author><name>Dhini Gilang Prasasti</name><uri>http://www.blogger.com/profile/17786272930796266715</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='29' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/-JtjRHzZKFMg/Twnka1jMscI/AAAAAAAAA1E/4efluOKoYKQ/s220/IMG_5114.JPG'/></author><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1907104877772613638.post-5728242694244898185</id><published>2009-06-24T16:04:00.009+07:00</published><updated>2009-12-13T01:10:17.125+07:00</updated><title type='text'>Lara Sang Biduanita</title><content type='html'>Lagi-lagi publik dibuat geger lewat berita kasus kekerasaan dalam rumah tanga (KDRT) yang menimpa pesohor negeri ini. Kali ini, biduanita dangdut Cici Faramida yang menjadi korbannya. Alih-alih mengecap manisnya masa pengantin baru, sang suami justru tega menghempaskan dirinya ke aspal.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Duh, Gusti. Apa dosa perempuan-perempuan di negeri ini? Kenapa derita perempuan seolah &lt;span style="font-style: italic;"&gt;nggak&lt;/span&gt; pernah ada habisnya?? Betul bahwa perkara Manohara memang belum bisa dipastikan bagaimana kebenarannya, tapi Cici? Lebam-lebam di pelipis dan pipi kanan perempuan manis ini tentunya cukup menjadi saksi adanya KDRT yang menimpanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pertanyaan saya: kok bisa ya..? Belum genap tiga bulan lhoo..?!?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hey Raden Suhaebi dan para lelaki lain yang mungkin saat ini sedang gandrung sama yang namanya KDRT, perempuan-perempuan itu istrimu &lt;span style="font-style: italic;"&gt;lho, &lt;/span&gt;yang dulu kamu minta dengan sepenuh hati dari orang tua mereka, yang dulu kamu janjikan di depan para saksi untuk menjaga dan memuliakannya, yang dulu kamu pamerkan dengan bangganya di acara resepsi besar-besaran yang kamu gelar..!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Apa Kalian Lupa??&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;more..&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1907104877772613638-5728242694244898185?l=dhinigilangprasasti.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://dhinigilangprasasti.blogspot.com/feeds/5728242694244898185/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=1907104877772613638&amp;postID=5728242694244898185&amp;isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1907104877772613638/posts/default/5728242694244898185'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1907104877772613638/posts/default/5728242694244898185'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://dhinigilangprasasti.blogspot.com/2009/06/yth-perempuan-indonesia.html' title='Lara Sang Biduanita'/><author><name>Dhini Gilang Prasasti</name><uri>http://www.blogger.com/profile/17786272930796266715</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='29' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/-JtjRHzZKFMg/Twnka1jMscI/AAAAAAAAA1E/4efluOKoYKQ/s220/IMG_5114.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1907104877772613638.post-3513630716521663118</id><published>2009-06-11T00:39:00.005+07:00</published><updated>2009-07-04T01:26:32.191+07:00</updated><title type='text'>Ritual Gunung Kemukus (Bagian 1)</title><content type='html'>&lt;span style="font-family:arial;"&gt;"...Mas Badrun, apakah sampeyan memang benar ingin menjadi kaya? Lalu untuk apa kekayaan itu andaikan sudah sampeyan dapatkan? Untuk anak istri? Untuk kawin lagi?? Akan kawin lagi sampe berapa kali sampeyan Mas Badrun??? Empat kali sesuai dengan syariat? Atau hanya cukup yang ini saja? Mas Badrun, apakah kalau perempuan juga boleh menikah sampai punya empat suami? Kalau tidak boleh, berarti aturan itu tidak adil. Aku akan minta pada Pengran Samodro dan Nyai Ontrowulan, agar perempuan juga disetarakan dengan laki-laki. Kalau laki-laki boleh poligami, maka pangeran dan nyai juga harus mendoakan pada Allah agar perempuan juga bisa poliandri........"&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:arial;"&gt;dikutip dari "&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family:arial;"&gt;Ritual Gunung Kemukus", karya&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family:arial;"&gt; F. Rahardi&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;more..&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1907104877772613638-3513630716521663118?l=dhinigilangprasasti.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://dhinigilangprasasti.blogspot.com/feeds/3513630716521663118/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=1907104877772613638&amp;postID=3513630716521663118&amp;isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1907104877772613638/posts/default/3513630716521663118'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1907104877772613638/posts/default/3513630716521663118'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://dhinigilangprasasti.blogspot.com/2009/06/ritual-gunung-kemukus-bagian-1.html' title='Ritual Gunung Kemukus (Bagian 1)'/><author><name>Dhini Gilang Prasasti</name><uri>http://www.blogger.com/profile/17786272930796266715</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='29' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/-JtjRHzZKFMg/Twnka1jMscI/AAAAAAAAA1E/4efluOKoYKQ/s220/IMG_5114.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1907104877772613638.post-8777953683049303608</id><published>2009-05-07T23:23:00.010+07:00</published><updated>2009-10-06T21:31:11.062+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='..hiburan..'/><title type='text'>Bicara Reality Show</title><content type='html'>&lt;span&gt;Hahhhhhh. Gerah. Gerah. Gerahhh.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kesal sekali rasanya memperhatikan acara&lt;span style="font-style: italic;"&gt; reality show&lt;/span&gt; demi &lt;span style="font-style: italic;"&gt;reality show&lt;/span&gt; yang belakangan semakin menjamur saja di televisi kita.  Iya, itu:  &lt;span style="font-style: italic;"&gt;Reality show-reality show &lt;/span&gt;yang mengumbar keributan dan kehebohan berbau perselingkuhan sampai ketimpangan nasib segala. Beberapa yang saya perhatikan belakangan ini, misalnya: &lt;span style="font-style: italic;"&gt;Curhat bareng Anjasmara (TPI), Masihkah Kau Mencintaiku? (RCTI), Tak Ada yang Abadi (RCTI), Tukar Nasib (SCTV), Pemberian Misterius (SCTV), Termehek-mehek (Trans TV)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;.....&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bukan main. Saya rasa, sudah cukup ketertinggalan bangsa ini. Mengurusi masalah pengangguran dan harga sembako di pasar saja belum mampu sepenuhnya ditangani pemerintah, kok malah disumbang dengan acara-acara model begini yang menurut prediksi saya tidak akan memberikan subangsih apa-apa bagi berjuta-juta pasang mata yang melihatnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Konkretnya, sekarang apa urusannya masalah pribadi seseorang sampai dibawa dan diumbar dihadapan kamera?? Masalah itu ya urusan pribadi mereka. Atau, kalau kalimat barusan terdengar sangat &lt;span&gt;egois, mungkin kalimat berikut lebih bersifat eufimisme: setiap orang itu ditakdirkan hidup dengan masalahnya masing-masing. Percaya saja kalau Tuhan itu maha adil. Dia tidak akan memberikan cobaan diluar kemampuan manusia untuk menghadapinya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Itu jika niat berbagai tayagan &lt;span style="font-style: italic;"&gt;reality show&lt;/span&gt; tersebut memang ingin membantu menyelesaikan permasalahan orang-orang sebagaimana yang selama ini berusaha ditampilkan loh. Yang jadi masalah, kalau niatnya justru berseberangan bagaimana? Bagaimana jika sebenarnya masalahnya tidak sedramatis yang kita saksikan di layar kaca? Bagaimana jika itu hanya rekayasa belaka? Bagaimana jika tayangan-tayangan itu tidak memberikan efek jera melainkan menjadi inspirasi bagi para penontonnya?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di titik ini, kepercayaan saya terhadap kualitas media massa di Indonesia semakin luntur saja. Kenyataannya, kita semakin tak bisa berharap pada media-media yang telah menjadi sarana korporasi untuk mengeruk sebanyak-banyaknya keuntungan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi, ini bukan harga mati. Maksud saya, jika kita tak bisa lagi berharap pada media massa apalagi pemerintah yang sudah amat sangat sibuk untuk mengurusi regulasinya, mungkin bisa dicoba agar kita sendiri yang beralih menjadi pemirsa cerdas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Begini saja, kalau kalian berpikir saya menghasut, saya akan berbagi cerita tentang bagaimana secara tidak sengaja saya membuktikan sendiri bahwa tayangan &lt;span style="font-style: italic;"&gt;reality show&lt;/span&gt; tidak lebih dari bentuk lain sebuah sinetron dalam kemasan baru dan gaya yang lebih "riil".&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pembuktian 1:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ini nyata. Termehek-mehek sekian minggu yang lalu. Ketika dalam pencarian, salah satu sumber yang harus dikejar adalah bartender. Dan saya tahu persis bar yang mereka kunjungi di daerah Kemang, karena kebetulan pada minggu-minggu itu saya juga sedang membuat tulisan tentang gelas-gelas cocktail yang mengharuskan saya keluar masuk bar di daerah Kemang untuk wawancara dengan bartender. Dan melihat detil bar yang terekam di kamera, saya tahu betul, itu salah satu bar yang saya kunjungi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Beberapa hari kemudian, ketika saya harus datang untuk wawancara lanjutan ke bar tersebut, saya iseng bertanya, &lt;span&gt;"Kemarin ada syuting reality show ya?".&lt;/span&gt; Sang bartender mengiyakan. Kemudian saya tanya lagi, &lt;span&gt;"Oh, memang ada bartender cewek juga ya disini?". &lt;/span&gt;Dan bartender menjawab, &lt;span&gt;"Nggak ada sih, tiga-tiganya laki-laki?", ia menutup kalimatnya dengan senyum setengah getir.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pembuktian 2:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Salah seorang teman teman dekat saya, bekerja di salah satu tv swasta, yang juga memproduksi sebuah acara reality show. Hmm, bahkan, reality show ini bisa dibilang sebagai pelopor maraknya model reality show-reality show yang menjamur saat ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan ketika beberapa waktu lalu bertemu di acara pernikahan seorang sahabat, ia tak sengaja membeberkan, bahwa para 'pemain' dalam reality show tersebut terlebih dulu harus melewati proses casting. WHAT?? CASTING?? Jadi ini reality show atau sinetron????&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pembuktian 3:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pembuktian yang ini sih sebenarnya lebih bermain logic saja. Dan kali ini, kita akan sedikit bermain hitung-hitungan. Kira-kira begini. Jika dalam satu minggu sebuah reality show harus tayang 2 hari, tapi untuk melakukan 1 kali pencarian saja bisa memakan waktu sampai 10 hari, lantas bagaimana deadline tayang 2 kali seminggu itu bisa dipenuhi?&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;DENGGGGGGG!!!!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jadi, apa bedanya dengan sinetron kalau begitu???&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Anda pasti bisa menjawab sendiri. Pesan saya, kalau memang Anda masih punya sekotak mimpi atau harapan untuk maju, jangan mau dibodohi dan dieksploitasi hanya untuk keuntungan mereka. Memberanikan diri menahan ego untuk tidak menonton acara-acara itu saja sudah  sebuah langkah maju. Selamat mencoba!&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;more..&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1907104877772613638-8777953683049303608?l=dhinigilangprasasti.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://dhinigilangprasasti.blogspot.com/feeds/8777953683049303608/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=1907104877772613638&amp;postID=8777953683049303608&amp;isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1907104877772613638/posts/default/8777953683049303608'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1907104877772613638/posts/default/8777953683049303608'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://dhinigilangprasasti.blogspot.com/2009/05/hentikan-reality-reality-show-keparat.html' title='Bicara Reality Show'/><author><name>Dhini Gilang Prasasti</name><uri>http://www.blogger.com/profile/17786272930796266715</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='29' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/-JtjRHzZKFMg/Twnka1jMscI/AAAAAAAAA1E/4efluOKoYKQ/s220/IMG_5114.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1907104877772613638.post-6889292763252588220</id><published>2009-05-03T07:34:00.009+07:00</published><updated>2009-05-21T17:30:32.603+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='..highlights..'/><title type='text'>Antasari</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://4.bp.blogspot.com/_s5LWZYlcvTY/ShRrW072xbI/AAAAAAAAAGk/Z2qzfjkFN_0/s1600-h/20080612_043329_azhar.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 10px 10px 0pt; float: left; cursor: pointer; width: 200px; height: 158px;" src="http://4.bp.blogspot.com/_s5LWZYlcvTY/ShRrW072xbI/AAAAAAAAAGk/Z2qzfjkFN_0/s200/20080612_043329_azhar.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5338009498251871666" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;Dua hari lalu, saya tersentak saat sebuah pesan singkat yang tiba-tiba mampir di ponsel saya. Bukan-bukan, ini bukan sms dari orang spesial, tapi ini isi sms yang spesial. Bunyinya kurang lebih begini: &lt;span style="font-style: italic;"&gt;"Antasari jadi tersangka pembunuhan, dia sekarang dicekal. Ada di berita sore ini." &lt;/span&gt;Selang setengah jam, seorang teman lain bahkan menelepon, &lt;span style="font-style: italic;"&gt;"Objek skripsi lo jadi tersangka pembunuhan." &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tanpa pikir panjang, saya langsung menyabet &lt;span style="font-style: italic;"&gt;remote&lt;/span&gt; TV yang ada di atas meja makan. Dan benar saja, sore itu, berita dugaan keterlibatan Antasari dalam pembunuhan Nasrudin Zulkarnaen sang direktur PT. Putra Rajawali Banjaran menjadi &lt;span style="font-style: italic;"&gt;headline&lt;/span&gt; di beberapa program berita sejumlah stasiun TV.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi, kemarin sore, berita yang berkembang sudah lain lagi. Menurut perwakilan tim pengacara Antasari, kliennya hanya dipanggil sebagai saksi, bukan tersangka. Namun Senin, beritanya kembali bergeser, bahkan kali ini semakin seru saja. Setelah diperiksa sebagai saksi, Antasari ditetapkan sebagai tersangka. Tak urung, dirinya pun harus rela mendekam di POLDA METRO JAYA guna menjalani sederet pemeriksaan lanjutan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selang beberapa hari, Antasari dinonaktifkan dari jabatannya sebagai Ketua KPK. Dan saya semakin tertarik mengikuti perkembangan kasus ini. Bukan karena skripsi saya yang pernah membahas seputar kontroversi terpilihnya Antasari sebagai Ketua KPK di Koran Tempo, tapi karena kasus ini menunjukkan satu langkah maju: bahwa tidak ada seorang pun yang kebal dari hukum, bahkan seorang Ketua KPK yang dipuji karena kinerjanya yang menakjubkan sekalipun.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Meski penangkapan Antasari menunjukkan kemajuan di bidang penegakkan hukum, perkara ini belum berhenti sampai di sini. Tugas berat masih menanti para aparat Kepolisian untuk mengungkap apa yang sebenarnya terjadi di balik penembakan Nasrudin 15 Maret lalu. Benarkah ini hanya sebatas konflik cinta segitiga semata? Atau justru ada sebuah konspirasi besar yang dirancang para koruptor untuk melemahkan sepak terjang KPK?? Semuanya masih terlalu kabur untuk diprediksi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan bersamaan dengan berjalannya proses tersebut, saya pikir asas praduga tak bersalah tetap harus dikedepankan. Satu hal yang membuat saya miris: Beberapa hari lalu, saya baru saja membaca artikel di KARTINI tentang profil istri Antasari, Ida Laksmiwati Antasari Azhar. Pada artikel itu tertulis judul: &lt;span style="font-style: italic;"&gt;"Bapak selalu berpesan agar kami siap ditinggalkan." &lt;/span&gt;&lt;span&gt;Apakah ini sebuah pertanda? Mungkin saja. &lt;/span&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;more..&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1907104877772613638-6889292763252588220?l=dhinigilangprasasti.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://dhinigilangprasasti.blogspot.com/feeds/6889292763252588220/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=1907104877772613638&amp;postID=6889292763252588220&amp;isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1907104877772613638/posts/default/6889292763252588220'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1907104877772613638/posts/default/6889292763252588220'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://dhinigilangprasasti.blogspot.com/2009/05/antasari.html' title='Antasari'/><author><name>Dhini Gilang Prasasti</name><uri>http://www.blogger.com/profile/17786272930796266715</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='29' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/-JtjRHzZKFMg/Twnka1jMscI/AAAAAAAAA1E/4efluOKoYKQ/s220/IMG_5114.JPG'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://4.bp.blogspot.com/_s5LWZYlcvTY/ShRrW072xbI/AAAAAAAAAGk/Z2qzfjkFN_0/s72-c/20080612_043329_azhar.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1907104877772613638.post-5834156900871047152</id><published>2009-04-17T15:05:00.012+07:00</published><updated>2009-05-21T03:47:31.090+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='..senayan..'/><title type='text'>Seminggu Setelah 9 April</title><content type='html'>&lt;div align="justify"&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://3.bp.blogspot.com/_s5LWZYlcvTY/SehB0vq-b-I/AAAAAAAAAFc/YQlg153E3As/s1600-h/54801_surat_suara_pemilu_2009_thumb_800_.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0px auto 10px; display: block; text-align: center; cursor: pointer; width: 200px; height: 150px;" src="http://3.bp.blogspot.com/_s5LWZYlcvTY/SehB0vq-b-I/AAAAAAAAAFc/YQlg153E3As/s200/54801_surat_suara_pemilu_2009_thumb_800_.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5325578933771333602" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: left;"&gt;Genap seminggu setelah hari keramat pencontrengan di 9 April lalu. Yah, syukur alhamdulillah prosesnya berjalan cukup damai ya, meski juga tidak menutup mata tentang masih banyaknya kekacauan di sana-sini. &lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: left;"&gt;Jujur, secara pribadi saya agak takjub juga dengan pemilu kali ini. Kalau boleh saya beri julukan, ini pemilu ternekat yang mungkin ada dalam sejarah bangsa ini. Yahh, tapi namanya juga usaha, harus dihargai juga, hehe..&lt;/p&gt;&lt;p style="text-align: left;"&gt;Tapi, kalau boleh memberi saran &lt;em&gt;nih&lt;/em&gt; ya buat lembaga KPU yang terhormat, menurut saya &lt;em&gt;sih,&lt;/em&gt; membuat suatu gebrakan atau terobosan atau pionir atau apalah itu istilahnya, &lt;em&gt;mbok ya&lt;/em&gt; coba dipikir panjang dulu. Kalau memang kenyataannya belum siap, ya tidak perlu dibuat sok siap tapi ternyata kocar-kacir pas pelaksanaannya. Mulai banyaknya masyarakat yang tidak terdaftar dalam DPT-lah, kertas pemilu propinsi Bali nyasar ke daerah Jawa Timur-lah, sampai-sampai rumah sakit jiwa yang tiba-tiba kedatangan banyak pasien baru (baca: caleg stress), wah2...&lt;/p&gt;&lt;p style="text-align: left;"&gt;Masalahnya bukan apa-apa, kalau sudah begini, peluang munculnya pihak-pihak yang mencari kesempatan dalam kesempitan akan sangat besar. Dan benar saja &lt;em&gt;kan,&lt;/em&gt; belum genap satu minggu pascapemilu legislatif lalu, sejumlah petinggi partai politik yang dipelopori si ketua moncong putih itu langsung berulah dengan menggugat keabsahan dibalik kekisruhan pemilu 9 April lalu. &lt;/p&gt;&lt;p style="text-align: left;"&gt;Mudah-mudahan saja KPU punya sejumlah jawaban yang kuat untuk semua kekisruhan itu ya, karena kalau tidak, pihak-pihak koalisi si merah itu pasti akan lebih berulah lagi. Mudah-mudahan juga, kejadian ini menjadi pemicu bagi KPU untuk mempersiapkan pilpres mendatang dengan lebih teliti lagi. &lt;/p&gt;&lt;p style="text-align: left;"&gt;&lt;strong&gt;&lt;span style="color: rgb(255, 204, 204);"&gt;&lt;em&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;note: saya agak tergelitik juga ketika hanura dan gerindra memutuskan berkoalisi di kubu Megawati. Prabowo dan Wiranto bersatu lagi. Haha, bukannya mereka pernah saling menjatuhkan ya 10 tahun lalu?? Politik yaa, musuh bebuyutan pun rela digandeng demi kekuasaan, hupph!&lt;/span&gt;&lt;/em&gt;&lt;/span&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;more..&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1907104877772613638-5834156900871047152?l=dhinigilangprasasti.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://dhinigilangprasasti.blogspot.com/feeds/5834156900871047152/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=1907104877772613638&amp;postID=5834156900871047152&amp;isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1907104877772613638/posts/default/5834156900871047152'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1907104877772613638/posts/default/5834156900871047152'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://dhinigilangprasasti.blogspot.com/2009/04/satu-minggu-setelah-9-april.html' title='Seminggu Setelah 9 April'/><author><name>Dhini Gilang Prasasti</name><uri>http://www.blogger.com/profile/17786272930796266715</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='29' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/-JtjRHzZKFMg/Twnka1jMscI/AAAAAAAAA1E/4efluOKoYKQ/s220/IMG_5114.JPG'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://3.bp.blogspot.com/_s5LWZYlcvTY/SehB0vq-b-I/AAAAAAAAAFc/YQlg153E3As/s72-c/54801_surat_suara_pemilu_2009_thumb_800_.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1907104877772613638.post-4874338512738575090</id><published>2009-04-04T02:12:00.009+07:00</published><updated>2009-05-21T03:46:50.528+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='..humaniora..'/><title type='text'>Tentang Situ Gintung (2)..</title><content type='html'>&lt;p style="text-align: left;"&gt;&lt;em&gt;"Lha wong bencana kok malah jadi tontonan..."&lt;/em&gt;&lt;/p&gt;&lt;p style="text-align: left;"&gt;Yah setidaknya itulah gambaran yang kita dapatkan pascabencana jebolnya tanggul situ gintung Jumat pekan lalu. Alih-alih diisolasi, kawasan bekas jebolnya Situ Gintung di Cirendeu, Tangerang-Banten ini justru penuh sesak oleh pengunjung objek wisata dadakan. GOSH!&lt;/p&gt;&lt;p style="text-align: left;"&gt;Berdasarkan beberapa berita yang saya lihat dan baca baik di media massa cetak maupun elektronik, pascabencana yang terjadi Jumat (27/3) dini hari lalu itu, ribuan orang justru berbondong-bondong datang ke Situ Gintung. Alih-alih menolong, ribuan ini datang hanya untuk 'melongok' saja. Entah apa yang mereka cari di sana. Hanya pemandangan saja mungkin. Tapi pemandangan apa? Pemandangan tentang betapa naasnya nasib para korban??&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yang lebih memperihatinkan, para pengunjung dadakan ini sebagian besar bahkan memilih mendokumentasikan lokasi bencana menggunakan kamera digital ataupun kamera &lt;em&gt;hand phone.&lt;/em&gt; Mereka memotret dan merekam gambar lokasi bencana yang sudah luluh lantak karena diterjang air bah jebolan Situ Gintung.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di sisi lain, kondisi ini ternyata membawa rezeki bagi sebagian warga dengan membuka lahan parkir. Mereka membuka tempat penitipan sepeda motor di jalan Juanda Ciputat, yang terletak di seberang lokasi bencana. Suasana bagaikan pasar tumpah dadakan di lokasi pinggiran tanggul yang masih utuh. &lt;/p&gt;&lt;p style="text-align: left;"&gt;Tak hanya itu, lahan rezeki ini juga dimanfaatkan para pedagang makanan dan minuman. Berbagai macam makanan dan minuman seperti bakso dan es cendol tak pelak laris diserbu pengunjung yang datang berbondong-bondong. &lt;/p&gt;&lt;p style="text-align: left;"&gt;Jika sudah begini, siapa yang sepatutnya dipersalahkan? Para pengunjung, pedagang, atau tukang parkir dadakan?? Kalau saya &lt;em&gt;sih,&lt;/em&gt; inginnya menyayangkan ketidaksigapan aparat kepolisian setempat. Jika saja  mereka cepat tanggap dan segera memasang police line selang beberapa jam setelah kejadian, pasti tidak akan seperti ini jadinya....&lt;br /&gt; &lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;more..&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1907104877772613638-4874338512738575090?l=dhinigilangprasasti.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://dhinigilangprasasti.blogspot.com/feeds/4874338512738575090/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=1907104877772613638&amp;postID=4874338512738575090&amp;isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1907104877772613638/posts/default/4874338512738575090'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1907104877772613638/posts/default/4874338512738575090'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://dhinigilangprasasti.blogspot.com/2009/04/tentang-situ-gintung-2.html' title='Tentang Situ Gintung (2)..'/><author><name>Dhini Gilang Prasasti</name><uri>http://www.blogger.com/profile/17786272930796266715</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='29' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/-JtjRHzZKFMg/Twnka1jMscI/AAAAAAAAA1E/4efluOKoYKQ/s220/IMG_5114.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1907104877772613638.post-766147642458025130</id><published>2009-04-02T23:15:00.018+07:00</published><updated>2009-04-17T15:38:42.069+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='..hiburan..'/><title type='text'>Penting untuk Dicatat!</title><content type='html'>&lt;p align="justify"&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://1.bp.blogspot.com/_s5LWZYlcvTY/SdTso2-nQSI/AAAAAAAAACo/VoV3WQ6r3sA/s1600-h/HAREEM.jpg"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;width: 200px; height: 138px;" src="http://1.bp.blogspot.com/_s5LWZYlcvTY/SdTso2-nQSI/AAAAAAAAACo/VoV3WQ6r3sA/s200/HAREEM.jpg" border="0" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5320137246528454946" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;p align="justify"&gt;&lt;/p&gt;&lt;p align="justify"&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;T&lt;/span&gt;ahu sinetron berjudul HAREEM yang ditayangkan INDOSIAR?? Yang salah satu pemainnya adalah Shandy Aulia?? Yang gambarnya ada di samping iniii????&lt;/div&gt;&lt;p align="justify"&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;/div&gt;&lt;p align="justify"&gt;&lt;/p&gt;&lt;p align="justify"&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;Dua hari lalu saya baca di Kaskus klo sinetron ini berhenti tayang atas permintaan KPI. Meski bukan penonton setia, saya tahu sekilas sinetron tersebut dari kehebohan pembantu saya saat menontonnya. Dan ketika tahu kabar bahwa sinetron ini berhenti tayang, saya pun langsung tertawa-tawa dalam hati, "akhirnyaaa..." &lt;/div&gt;&lt;p align="justify"&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;/div&gt;&lt;p align="justify"&gt;&lt;/p&gt;&lt;p align="justify"&gt;&lt;div align="justify"&gt;Saya pikir amat sangat wajar ketika KPI menghentikan siaran sinetron yang satu ini, karena selain tidak mendidik, sinetron ini juga sarat akan praktik poligami -sesuatu yang sebenarnya sampai saat ini masih tidak masuk di akal saya-  dengan gaya yang berlebihan, norak, dan kampungan. &lt;/div&gt;&lt;p align="justify"&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;/div&gt;&lt;p align="justify"&gt;&lt;/p&gt;&lt;p align="justify"&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;Alih-alih berhenti tayang, sinetron ini justru memilih untuk berubah format (sekali lagi kita ditunjukkan bahwa modal tetap diatas segalanya). Salah satu bentuk perubahan yang paling lucu menurut saya, para hareem yang awalnya berjilbab, kini tak lagi tampil dengan menggunakan jilbab. Huahauhahuaha...RASAKAN! &lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;more..&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1907104877772613638-766147642458025130?l=dhinigilangprasasti.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://dhinigilangprasasti.blogspot.com/feeds/766147642458025130/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=1907104877772613638&amp;postID=766147642458025130&amp;isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1907104877772613638/posts/default/766147642458025130'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1907104877772613638/posts/default/766147642458025130'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://dhinigilangprasasti.blogspot.com/2009/04/para-hareem-tak-berjilbab.html' title='Penting untuk Dicatat!'/><author><name>Dhini Gilang Prasasti</name><uri>http://www.blogger.com/profile/17786272930796266715</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='29' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/-JtjRHzZKFMg/Twnka1jMscI/AAAAAAAAA1E/4efluOKoYKQ/s220/IMG_5114.JPG'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://1.bp.blogspot.com/_s5LWZYlcvTY/SdTso2-nQSI/AAAAAAAAACo/VoV3WQ6r3sA/s72-c/HAREEM.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1907104877772613638.post-2677746164036046653</id><published>2009-04-02T01:14:00.010+07:00</published><updated>2009-04-17T15:38:53.672+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='..humaniora..'/><title type='text'>Tentang Situ Gintung (1)..</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://1.bp.blogspot.com/_s5LWZYlcvTY/SdTuuI5m9OI/AAAAAAAAACw/WjfyWOa1lZw/s1600-h/1229207p.jpg"&gt;&lt;img style="display:block; margin:0px auto 10px; text-align:center;cursor:pointer; cursor:hand;width: 200px; height: 151px;" src="http://1.bp.blogspot.com/_s5LWZYlcvTY/SdTuuI5m9OI/AAAAAAAAACw/WjfyWOa1lZw/s200/1229207p.jpg" border="0" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5320139536261903586" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;p align="justify"&gt;Sepekan sudah tragedi Situ Gintung terjadi. Tentu saja terasa begitu cepat bagi kita, karena kita tidak termasuk ke dalam kelompok orang-orang yang sampai saat ini masih mencari sanak keluarganya, berduka karena kehilangan yang amat tragis, atau meratap karena tak ada lagi rumah tempat berlindung maupun sisa harta benda.&lt;/p&gt;&lt;p align="justify"&gt;Mungkin benar intisari syair yang dibacakan Taufik Ismail di sebuah acara TV semalam, bahwa kejadian ini adalah pertanda, dan jika saja kita bisa lebih peka untuk memahami pertanda tersebut... Ahh, mengapa penyesalan datangnya selalu saja di belakang ya??&lt;/p&gt;&lt;p align="justify"&gt;Miris sekali rasanya melihat bagaimana Iwan harus kehilangan tujuh anggota keluarga, termasuk ibu, istri, dan anaknya. Atau mungkin Riri, yang harus kehilangan putri tunggalnya yang baru berusia lima tahun. Atau Suprihatin, yang harus merelakan bayi mungilnya pergi. Hari-hari ini dan kemarin tentu akan menjadi hari yang tak terlupakan bagi mereka. &lt;/p&gt;&lt;p align="justify"&gt;Lalu apa kata para petinggi?? Meski pihak BPPT mengakui bahwa mereka "secara tak sengaja" telah menemukan bagian titik yang retak saat menguji kualitas air situ pada Desember 2008 lalu, Departemen Pekerjaan Umum masih saja berkilah; &lt;em&gt;"sesuai yang telah ditetapkan presiden dan wakil presiden saat mengunjungi lokasi, ini bencana alam, karena malamnya hujan turun sangat deras sehingga situ tak lagi mampu menahan tekanan air," &lt;/em&gt;ujar salah satu pejabat DPU yang hadir di salah satu acara stasiun televisi swasta semalam. &lt;/p&gt;&lt;p align="justify"&gt;Jika bencana menjadi simpulan akhir, lantas apa kabar dengan temuan BPPT bulan Desember lalu? Apa kabar penuturan warga setempat bahwa mereka sempat mengadukan gejala-gejala situ yang akan jebol ke pihak kelurahan dan tidak ditanggapi secara serius?  Apa kabar pula pembangunan &lt;em&gt;jogging track&lt;/em&gt; selebar dua meter dan rencana menjadikan situ gintung sebagai objek pariwisata?? &lt;/p&gt;&lt;p align="justify"&gt;Elite..elite...Apa susahnya &lt;em&gt;sih&lt;/em&gt; mengakui adanya faktor kelalaian dan keterlambatan pada tragedi Situ Gintung, Jumat dini hari lalu???&lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;more..&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1907104877772613638-2677746164036046653?l=dhinigilangprasasti.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://dhinigilangprasasti.blogspot.com/feeds/2677746164036046653/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=1907104877772613638&amp;postID=2677746164036046653&amp;isPopup=true' title='1 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1907104877772613638/posts/default/2677746164036046653'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1907104877772613638/posts/default/2677746164036046653'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://dhinigilangprasasti.blogspot.com/2009/04/tentang-situ-gintung-1.html' title='Tentang Situ Gintung (1)..'/><author><name>Dhini Gilang Prasasti</name><uri>http://www.blogger.com/profile/17786272930796266715</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='29' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/-JtjRHzZKFMg/Twnka1jMscI/AAAAAAAAA1E/4efluOKoYKQ/s220/IMG_5114.JPG'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://1.bp.blogspot.com/_s5LWZYlcvTY/SdTuuI5m9OI/AAAAAAAAACw/WjfyWOa1lZw/s72-c/1229207p.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1907104877772613638.post-4957311627280137999</id><published>2009-03-31T12:41:00.006+07:00</published><updated>2009-04-10T02:16:49.285+07:00</updated><title type='text'>Selamat Datang!</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://2.bp.blogspot.com/_s5LWZYlcvTY/SdTwjr_RX4I/AAAAAAAAADA/ToA9lCeSo1g/s1600-h/welcome.gif"&gt;&lt;img style="display:block; margin:0px auto 10px; text-align:center;cursor:pointer; cursor:hand;width: 198px; height: 200px;" src="http://2.bp.blogspot.com/_s5LWZYlcvTY/SdTwjr_RX4I/AAAAAAAAADA/ToA9lCeSo1g/s200/welcome.gif" border="0" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5320141555725590402" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;p align="justify"&gt;Akhirnya tercipta juga blog ini, setelah sekian lama saya menunda2 untuk membuatnya...&lt;/p&gt;&lt;p align="justify"&gt;Senang sekali krn setidaknya pada edisi perdana ini, saya bisa menyelipkan kata hujan -satu  diantara banyak hal yang menjadi kegemaran saya- pada judul blog ini...&lt;/p&gt;&lt;p align="justify"&gt;Semoga halaman ini senantiasa mengingatkan saya untuk tidak pernah berhenti menulis... &lt;/p&gt;&lt;p align="justify"&gt;Selamat Membaca!&lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;more..&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1907104877772613638-4957311627280137999?l=dhinigilangprasasti.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://dhinigilangprasasti.blogspot.com/feeds/4957311627280137999/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=1907104877772613638&amp;postID=4957311627280137999&amp;isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1907104877772613638/posts/default/4957311627280137999'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1907104877772613638/posts/default/4957311627280137999'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://dhinigilangprasasti.blogspot.com/2009/03/welkom.html' title='Selamat Datang!'/><author><name>Dhini Gilang Prasasti</name><uri>http://www.blogger.com/profile/17786272930796266715</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='29' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/-JtjRHzZKFMg/Twnka1jMscI/AAAAAAAAA1E/4efluOKoYKQ/s220/IMG_5114.JPG'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://2.bp.blogspot.com/_s5LWZYlcvTY/SdTwjr_RX4I/AAAAAAAAADA/ToA9lCeSo1g/s72-c/welcome.gif' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry></feed>
